JABARPOS.ID – Sri Sultan Hamengkubuwana IX, pemimpin Yogyakarta yang legendaris, dikenal bukan hanya karena kekuasaannya, tetapi juga kedermawanannya yang luar biasa. Di tengah kemegahan tahta, Sultan memilih hidup sederhana dan tanpa ragu mengulurkan tangan membantu rakyat kecil yang membutuhkan.
Meskipun catatan pasti mengenai total kekayaan Sri Sultan tidak dipublikasikan secara rinci, sejarah mencatat beliau sebagai sosok yang sangat peduli terhadap kesejahteraan rakyatnya. Beliau tak segan menyisihkan hartanya untuk meringankan beban masyarakat.

Pada masa awal kemerdekaan Indonesia, Sri Sultan menunjukkan komitmennya dengan menyumbangkan 6,5 juta gulden kepada pemerintah dan 5 juta gulden untuk membantu rakyat yang sedang kesulitan. Jika dikonversikan ke nilai saat ini, sumbangan tersebut setara dengan Rp 20-30 miliar.
Kisah kesederhanaan Sri Sultan juga tercermin dalam kebiasaan sehari-harinya. Dalam buku "Tahta untuk Rakyat: Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengkubuwono IX" (1982), diceritakan bahwa beliau pernah membeli es gerobakan di pinggir jalan dekat Stasiun Klender, Jakarta, pada tahun 1946. Padahal, sebagai seorang Sultan, beliau bisa saja menikmati minuman mewah di restoran, tetapi beliau lebih memilih untuk menikmati kesegaran es pinggir jalan.
Selain itu, Sri Sultan juga pernah menjadi sopir truk pengangkut beras. Suatu ketika, saat mengendarai truk Land Rover miliknya dari desa ke kota, beliau dihentikan oleh seorang penjual beras yang ingin ikut ke pasar. Tanpa mengetahui siapa sosok yang menumpanginya, penjual beras itu bahkan meminta bantuan untuk mengangkut karung beras ke dalam truk. Sri Sultan dengan rendah hati membantu mengangkat dua karung besar ke dalam truknya.
Dalam otobiografi Jenderal Pranoto Reksosamodra, diceritakan bahwa selama perjalanan, penjual beras dan Sri Sultan terlibat dalam percakapan akrab tanpa menyadari bahwa mereka sedang berbicara dengan penguasa nomor satu di Yogyakarta. Sesampainya di pasar, Sri Sultan juga membantu menurunkan karung beras seperti sopir pada umumnya. Penjual beras itu kemudian menawarkan upah, tetapi Sri Sultan dengan sopan menolak dan mengembalikan uang tersebut.
Penolakan itu justru membuat penjual beras marah dan tersinggung, mengira bahwa sang sopir menolak karena nominalnya terlalu kecil. Sri Sultan kemudian pergi meninggalkan penjual beras yang masih menggerutu dan menganggapnya sombong. Namun, seseorang kemudian memberitahu penjual beras itu bahwa sopir truk yang baru saja dimarahinya adalah Sultan Hamengkubuwana IX.
Mendengar hal itu, penjual beras tersebut terkejut dan pingsan hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Sri Sultan yang mendengar kejadian itu segera menjenguk penjual beras tersebut di rumah sakit, menunjukkan betapa besar perhatiannya terhadap rakyatnya.





