Beranda / Berita / Saham Nikel Indonesia Menggila Apa Rahasianya

Saham Nikel Indonesia Menggila Apa Rahasianya

Saham Nikel Indonesia Menggila Apa Rahasianya

Pasar modal Indonesia dihebohkan oleh lonjakan signifikan saham-saham emiten tambang nikel pada perdagangan hari ini, melanjutkan tren positif yang telah terjadi dalam sepekan terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh meroketnya harga nikel global ke level tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir. Menurut laporan jabarpos.id, fenomena ini tak lepas dari kebijakan pembatasan kapasitas produksi yang diterapkan di Indonesia, sebagai produsen nikel terbesar di dunia.

Pada sesi perdagangan hari ini hingga pukul 10.55 WIB, beberapa saham nikel memimpin penguatan. PT Ifishdeco Tbk (IFSH) melesat paling tinggi dengan kenaikan 24,19% ke Rp 1.155 per saham, bahkan menyentuh batas auto rejection atas. Dalam sepekan, saham PAM Mineral (NICL) telah mencatatkan kenaikan fantastis sebesar 48%, meskipun hari ini terkoreksi tipis.

Baca juga:  Misteri Pelemahan Rupiah dan IHSG Jelang Libur
Saham Nikel Indonesia Menggila Apa Rahasianya
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Tak hanya itu, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) turut melonjak 12,89% ke Rp 6.350, sementara PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel, menguat 12,31% ke Rp 1.460 per saham. Emiten tambang nikel milik BUMN, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), juga tak ketinggalan dengan kenaikan 12,17% ke Rp 3.870, melanjutkan penguatan 23,17% dalam sepekan.

Saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) naik 8,33% ke Rp 715, disusul PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) yang menguat 6,77% ke Rp 1.025, dengan kenaikan mingguan mencapai 43%. Emiten lain seperti PT Sinar Terang Mandiri (MINE) dan PT Adhi Kartiko Pratama (NICE) masing-masing juga membukukan kenaikan 6% dan 5%.

Lonjakan harga nikel global menjadi pemicu utama kegairahan pasar ini. Harga nikel kontrak tiga bulan di Bursa Logam London (LME) menembus level US$ 18.000 per ton, pertama kalinya dalam 15 bulan terakhir. Pada perdagangan terbaru, harga ditutup di US$ 18.524 per ton, menandai kenaikan hampir 40% dalam tiga minggu terakhir, mengembalikan harga nikel ke level yang terakhir terlihat pada Mei 2024.

Baca juga:  Jabarpos.id, Jakarta - Kejutan di tubuh Tugu Insurance! Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada Rabu, 17 September 2025, menyetujui pengunduran diri Samuel Lie dari jabatannya sebagai Komisaris.

Kenaikan drastis ini tak lepas dari langkah strategis Indonesia. Sebagai produsen nikel terbesar di dunia, pemerintah Indonesia mengusulkan pengurangan produksi nikel sebesar 34% dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Kebijakan ini diambil untuk mengatasi kekhawatiran akan kelebihan pasokan global dan peringatan dari para penambang mengenai kualitas bijih yang semakin memburuk.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa pembatasan produksi ini bertujuan menjaga pasokan dari Indonesia agar tidak membanjiri pasar global, yang pada akhirnya diharapkan dapat mendongkrak harga. Selain pertimbangan harga, Bahlil menegaskan, langkah ini juga untuk memastikan cadangan nikel dalam negeri tidak dieksploitasi secara berlebihan dan tetap tersedia untuk masa depan. Lebih lanjut, pemangkasan RKAB juga menjadi instrumen pemerintah untuk menertibkan perusahaan yang abai terhadap aturan lingkungan.

Baca juga:  Peluang Emas di Tengah Perang Dagang, Alkes RI Bidik Pasar Brasil dan Malaysia

Ini merupakan kelanjutan dari serangkaian kebijakan besar untuk mengendalikan pasokan nikel, setelah sebelumnya pemerintah melarang ekspor bijih nikel pada tahun 2020 yang memicu ekspansi signifikan sektor ini. Langkah-langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk menyeimbangkan kepentingan ekonomi, keberlanjutan sumber daya, dan kepatuhan lingkungan dalam industri nikel nasional.