Beranda / Berita / Orang Terkaya RI Borong Saham Saat Pasar Bergolak

Orang Terkaya RI Borong Saham Saat Pasar Bergolak

Orang Terkaya RI Borong Saham Saat Pasar Bergolak

jabarpos.id, Jakarta – Prajogo Pangestu, taipan yang dikenal sebagai orang terkaya di Indonesia dan pengendali Barito Renewables Energi (BREN), kembali menarik perhatian pelaku pasar. Di tengah gejolak pasar modal yang fluktuatif, Prajogo dilaporkan menambah kepemilikan sahamnya di emiten energi baru terbarukan tersebut dengan nilai fantastis, mencapai miliaran rupiah.

Berdasarkan laporan keterbukaan informasi, Prajogo Pangestu melakukan pembelian saham BREN dalam sepuluh kesempatan berbeda pada perdagangan terbaru. Harga akuisisi saham bervariasi, mulai dari Rp 8.825 hingga Rp 9.025 per lembar. Secara keseluruhan, sebanyak 1,33 juta lembar saham berhasil diakuisisi dengan harga rata-rata sekitar Rp 8.930 per saham. Total nilai transaksi pembelian ini mencapai Rp 11,86 miliar.

Orang Terkaya RI Borong Saham Saat Pasar Bergolak
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Aksi korporasi ini secara langsung meningkatkan kepemilikan Prajogo di BREN dari 0,103% menjadi 0,104%. Meski demikian, perlu dicatat bahwa mayoritas saham BREN milik Prajogo dipegang secara tidak langsung melalui entitas Barito Pacific (BRPT), yang saat ini mengempit 64,66% saham BREN. Pembelian ini dikonfirmasi sebagai investasi pribadi Prajogo.

Baca juga:  Bursa Saham Indonesia Panen Triliunan Rupiah

Langkah strategis Prajogo ini berlangsung di tengah gejolak pasar modal yang menunjukkan volatilitas signifikan dalam beberapa hari terakhir. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok lebih dari 2% secara mendadak sebelum akhirnya pulih dan memangkas koreksi. Pada hari berikutnya, IHSG yang dibuka perkasa justru terseret ke zona merah dalam hitungan menit, meski kemudian berhasil ditutup melompat.

Saham BREN, sebagai emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI), turut menjadi sorotan utama di tengah volatilitas ini. BREN sempat menjadi salah satu saham yang paling awal bergerak turun pada perdagangan sebelumnya, menyeret kinerja indeks secara signifikan. Namun, pada perdagangan terakhir, pergerakan saham BREN relatif lebih stabil dibandingkan beberapa saham lain yang ikut bergejolak. Pada titik terendahnya, saham BREN sempat terkoreksi 3,88% ke Rp 8.650 per saham, namun berhasil ditutup menguat 2,22% ke level Rp 9.200 per saham.

Baca juga:  Asuransi Kredit Merugi, Bank Wajib Patungan Risiko?

Analisis di Balik Volatilitas IHSG

Para analis pasar memberikan pandangan mereka terkait tingginya volatilitas yang melanda IHSG. Herditya Wicaksana, Head of Research Retail MNC Sekuritas, menilai bahwa pergerakan IHSG saat ini, menurutnya, terbebani oleh kinerja tiga sektor utama: energi, infrastruktur, dan consumer cyclical. Herditya juga memperkirakan adanya potensi aksi ambil untung atau profit taking dari para investor, terutama setelah penguatan signifikan di sektor energi. Faktor makro seperti pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS dan penguatan harga emas dunia juga turut menjadi pemicu.

Data perdagangan menunjukkan, investor asing membukukan net buy sebesar Rp 1,3 triliun setelah mencatatkan pembelian senilai Rp 5,7 triliun dan penjualan Rp 4,4 triliun. Saham-saham dari sektor perbankan dan komoditas mendominasi daftar 10 saham dengan net buy asing terbesar, dengan Astra (ASII), Alamtri Resources (ADRO), Merdeka Battery Materials (MBMA), dan Vale Indonesia (INCO) berada di posisi teratas.

Baca juga:  Terungkap! Kekayaan Haji Isam Capai Puluhan Triliun, Tapi Kok Belum Masuk Daftar Forbes?

Di sisi lain, Kiswoyo Adi Joe, Head of Investment Nawasena Abhipraya Investama, melihat pergerakan IHSG ini sebagai hal yang wajar di tengah dinamika pasar. "IHSG kan buat new high. Setiap kali buat new high baru IHSG pasti akan ada koreksinya," pungkas Kiswoyo. Diketahui, IHSG telah beberapa kali mencapai rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High/ATH) belakangan ini, terakhir kali pada awal Januari, yang ditutup melompat ke level 8.933,61.

Aksi Prajogo Pangestu memborong saham BREN di tengah ketidakpastian pasar ini mengirimkan sinyal kuat mengenai kepercayaan diri seorang investor kawakan terhadap prospek jangka panjang perusahaannya, sekaligus menjadi indikator menarik bagi pelaku pasar lainnya.