Jakarta – Meskipun nilai tukar rupiah baru saja mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah Republik Indonesia, kondisi ini ternyata tidak menyurutkan minat investor asing untuk menanamkan modalnya di tanah air. Menurut laporan jabarpos.id, Menteri Investasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, menegaskan bahwa pergerakan rupiah saat ini masih berada dalam batas yang sangat dapat diterima oleh para investor global.
Dalam sebuah kesempatan di Kantor Kementerian Investasi/BKPM, Jakarta, pada Kamis (15/1/2026), Rosan menjelaskan bahwa fluktuasi dolar Amerika Serikat (USD) bukanlah sebuah kenaikan yang terus-menerus. Ia melihat dinamika ini sebagai bagian dari siklus naik-turun yang lumrah. "Ini masih dalam range yang sangat acceptable oleh investor luar juga," ujarnya, menekankan bahwa investor asing tetap memantau pergerakan mata uang rupiah, namun tingkat pelemahan saat ini tidak menjadi penghalang signifikan bagi keputusan investasi mereka.

Data dari Refinitiv mencatat bahwa pada penutupan perdagangan Kamis (15/1/2026), rupiah ditutup melemah 0,15% ke level Rp16.880 per dolar AS. Angka ini memecahkan rekor terlemah sebelumnya yang tercatat pada 24 April 2025, di mana rupiah berada di posisi Rp16.865 per dolar AS. Pencapaian rekor baru ini sekaligus mengindikasikan bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda masih berlanjut di awal tahun 2026.
Sepanjang sepuluh hari perdagangan di awal tahun ini, rupiah hanya mampu menguat satu kali, sementara sembilan hari sisanya terus tertekan oleh dominasi penguatan dolar AS. Akibatnya, secara year to date (YtD), rupiah telah mengalami pelemahan sebesar 1,26% terhadap mata uang Negeri Paman Sam tersebut.




