Beranda / Berita / Gen Z Nekat Investasi Kripto? Ini Kata OJK!

Gen Z Nekat Investasi Kripto? Ini Kata OJK!

Gen Z Nekat Investasi Kripto? Ini Kata OJK!

jabarpos.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyoroti fenomena menarik di kalangan generasi Z (Gen Z) terkait investasi. Generasi muda ini ternyata memiliki selera risiko yang berbeda jauh dibandingkan generasi sebelumnya, terutama dalam memilih aset investasi.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, mengungkapkan bahwa Gen Z cenderung lebih tertarik pada instrumen investasi berisiko tinggi seperti aset kripto. Hal ini disampaikan dalam rapat kerja dengan Komisi XI di DPR RI, Jakarta. Mahendra menambahkan bahwa preferensi ini bukan semata-mata karena kurangnya literasi keuangan, melainkan karena adanya perbedaan pandangan terhadap investasi.

Baca juga:  Irfan Setiaputra Selaku Dirut Garuda, Saat Ini Dirinya Resmi Dipecat Dari Jabatannya
Gen Z Nekat Investasi Kripto? Ini Kata OJK!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

"Mungkin prioritasnya sudah berubah. Ini pemahaman yang memang menarik," ujarnya. Mahendra menjelaskan bahwa generasi sebelum Gen Z biasanya memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pokok, tabungan, dan investasi berisiko rendah sebelum akhirnya melirik aset berisiko tinggi seperti saham atau kripto. Namun, Gen Z tampaknya memiliki pola pikir yang berbeda.

Berdasarkan survei, banyak Gen Z yang bahkan belum memiliki pekerjaan stabil, namun sudah memahami dan berinvestasi di aset kripto. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi OJK untuk memberikan literasi dan edukasi dengan format dan pendekatan yang berbeda, sesuai dengan cara pandang generasi muda ini.

Baca juga:  Industri Sawit Indonesia Terjebak Regulasi Rumit? Ini Kata Bos SMAR

Sementara itu, OJK juga menyoroti potensi besar sektor inovasi teknologi dan digital di sektor keuangan. Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK), Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto (IAKD) OJK, Hasan Fauzi, memprediksi bahwa nilai pasar industri ini secara global akan mencapai US$ 8.567,4 miliar pada tahun 2033, dengan pertumbuhan tahunan yang mencapai 26,3%.

Baca juga:  Imbas Hujan dan Angin Kencang 14 Rumah di Bogor Rusak

Hasan menambahkan bahwa Indonesia memiliki keunggulan demografi yang mendukung perkembangan fintech, terutama dengan tingginya penetrasi internet dan smartphone. Selain itu, fintech syariah juga semakin diminati di Indonesia, menjadikannya sebagai salah satu negara dengan lingkungan paling kondusif untuk pengembangan fintech syariah.