Jabarpos.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus rela menutup perdagangan di zona merah pada Senin, 30 Maret 2026, terkoreksi tipis 0,08% ke level 7.091. Pelemahan ini terjadi di tengah lesunya nilai tukar Rupiah yang terjerembab ke Rp 15.985 per Dolar AS. Lantas, faktor apa saja yang menjadi biang kerok gejolak di pasar modal Indonesia hari ini?
Salah satu sentimen negatif yang membayangi adalah lonjakan harga minyak dunia. Kenaikan harga komoditas energi ini memicu kekhawatiran akan inflasi global dan berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi. Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) bahkan telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,8%.

Kondisi ini tentu menjadi perhatian serius bagi para investor. Kenaikan harga minyak dapat membebani sektor industri dan transportasi, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi kinerja perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Selain itu, pelemahan Rupiah juga turut memperkeruh suasana. Rupiah yang terdepresiasi membuat harga barang-barang impor menjadi lebih mahal, yang juga dapat memicu inflasi. Investor asing pun cenderung menarik modalnya dari Indonesia karena khawatir nilai investasi mereka akan tergerus oleh pelemahan mata uang.
Analis pasar modal menilai bahwa sentimen-sentimen negatif ini akan terus membayangi pasar dalam jangka pendek. Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk menstabilkan Rupiah dan menjaga inflasi tetap terkendali. Jika tidak, bukan tidak mungkin IHSG akan terus tertekan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan semakin melambat.





