Sosok Oei Wie Gwan tak asing lagi bagi banyak orang, terutama sebagai pendiri raksasa rokok Djarum di Indonesia. Namun, seperti yang diungkap jabarpos.id, perjalanan bisnisnya ternyata tidak langsung bermula dari industri tembakau yang kini melambungkan namanya.
Sebelum merambah dunia rokok, Oei Wie Gwan justru memulai peruntungannya dengan menjual kembang api bermerek Cap Leo. Usaha ini, menurut catatan Jongki Tio dalam bukunya ‘Kota Semarang Dalam Kenangan’ (2000:60), bahkan telah berhasil menembus pasar ekspor. Kendati demikian, bisnis kembang api menyimpan risiko yang sangat tinggi. Sebuah laporan dari Bataviaasch Nieuwsblad pada 28 Januari 1938 mencatat insiden tragis: pabrik kembang api milik Oei Wie Gwan di Rembang meledak. Peristiwa nahas itu menewaskan lima pekerja di tempat, melukai 22 orang secara serius, dan 14 lainnya luka ringan. Sembilan dari korban luka berat kemudian meninggal dunia di rumah sakit.

Pasca-perang antara Indonesia dan Belanda mereda, Oei Wie Gwan memutuskan untuk menempuh jalur bisnis yang berbeda. Ia melakukan ‘banting setir’ dari kembang api ke industri rokok, sebuah pilihan yang menarik mengingat kedua produk tersebut sama-sama memerlukan api untuk dinikmati konsumennya.
Pada tahun 1951, Oei Wie Gwan mengakuisisi sebuah pabrik rokok kretek berskala kecil yang berlokasi di Kudus. Pabrik tersebut, yang awalnya dikenal dengan nama Djarum Gramophon, kemudian disederhanakan menjadi Djarum. Lokasinya berada di Jalan Bitingan Baru nomor 28, Kudus, Jawa Tengah, yang kini dikenal sebagai Jalan Ahmad Yani.
Ironisnya, elemen api kembali menjadi penyebab musibah dalam perjalanan bisnis Oei Wie Gwan. Pada tahun 1963, Djarum dilanda kebakaran hebat yang nyaris meluluhlantakkan seluruh perusahaan, seperti dicatat Rudi Badil dalam ‘Kretek Jawa’ (2011:35). Tak lama setelah tragedi tersebut, Oei Wie Gwan berpulang.
Namun, warisan bisnis yang dibangun Oei Wie Gwan tidak dibiarkan begitu saja. Kedua putranya, Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono, yang telah mengadopsi nama Indonesia, mengambil alih kemudi. Rudi Badil mengemukakan bahwa mereka "berhasil memulihkan keadaan" dan membawa Djarum kembali bersaing di pasar. Keseriusan mereka terlihat dari upaya membangun departemen penelitian dan pengembangan (R&D) sejak tahun 1970 serta mengadopsi teknologi mesin untuk mendongkrak kapasitas produksi, sebagaimana diuraikan Mark Hanusz dalam ‘Kretek: The Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarettes’ (2000:136&142).
Di bawah kepemimpinan generasi kedua, Djarum terus berinovasi. Pada tahun 1976, mereka memperkenalkan produk kretek filter, dan lima tahun kemudian, tepatnya 1981, Djarum Super diluncurkan. Merek ini terbukti sangat populer dan tetap menjadi favorit pasar hingga kini.
Kota Kudus, yang dahulu dikenal sebagai pusat kejayaan rokok Tiga Bal era Nitisemito, kini seolah bertransformasi menjadi "kota bulutangkis" berkat peran Djarum. Berdirinya PB Djarum di kota tersebut menunjukkan komitmen keluarga Hartono dalam membina atlet-atlet bulutangkis. Kesuksesan di industri rokok ini kemudian menjadi fondasi bagi keluarga Oei Wie Gwan untuk merambah berbagai sektor bisnis lain. Mereka kini dikenal sebagai konglomerat dengan portofolio investasi yang luas, meliputi elektronika (Polytron), perkebunan (HPI Argo), pusat perbelanjaan mewah (Grand Indonesia), e-commerce (Blibli), platform perjalanan daring (tiket.com), hingga kepemilikan saham mayoritas di Bank Central Asia (BCA).
Menariknya, terdapat hubungan historis antara keluarga Hartono dengan BCA. Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam buku ‘Liem Sioe Liong dan Salim Group’ (2016:87) mengungkapkan bahwa Liem Sioe Liong, pemilik awal BCA, juga pernah tinggal di Kudus dan merupakan kawan lama Oei Wie Gwan.





