Jakarta – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) kembali menunjukkan performa keuangan yang solid di tengah dinamika ekonomi global. Raksasa telekomunikasi nasional ini berhasil membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp37,2 triliun pada kuartal pertama 2026, sebuah kenaikan 1,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pencapaian ini, seperti dilaporkan jabarpos.id, menggarisbawahi ketatnya disiplin operasional dan percepatan eksekusi strategi transformasi TLKM 30 yang terus digalakkan perusahaan.
Laporan keuangan yang dirilis menunjukkan bahwa fundamental Telkom tetap kokoh. Perusahaan mencatatkan EBITDA sebesar Rp18,0 triliun dengan margin EBITDA mencapai 48,3%. Meskipun laba bersih tercatat Rp4,3 triliun dengan margin 11,7% yang sedikit terkontraksi akibat dampak percepatan depresiasi dan proses normalisasi bisnis pasca-transformasi, laba bersih yang dinormalisasi justru mencapai Rp5,1 triliun dengan margin 13,8%. Tekanan ini disebut bersifat transisional dan non-kas, sementara kinerja operasional inti tetap terjaga. Arus kas operasional juga tumbuh positif 3,1% menjadi Rp17,3 triliun, didorong oleh program efisiensi TOTEX dan penagihan yang lebih disiplin.

Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menyatakan optimisme terhadap kinerja perusahaan. "Kinerja kuartal pertama tahun 2026 ini menjadi awal yang baik dan motivasi bagi TelkomGroup untuk dapat terus melakukan perbaikan secara bertahap guna memberikan pencapaian dan kontribusi terbaik bagi perusahaan, pelanggan, masyarakat dan negara," ujarnya dalam keterangan resmi. Dian menambahkan, tahun ini Telkom akan semakin agresif dalam mengakselerasi strategi TLKM 30 demi menciptakan nilai optimal dan memastikan keberlanjutan perusahaan.
Dorongan Kuat dari Segmen B2C dan Perbaikan Pasar
Di segmen B2C, yang mencakup layanan seluler dan fixed broadband melalui Telkomsel, pendapatan konsolidasi mencapai Rp27,6 triliun, tumbuh 1,3% secara tahunan. Pertumbuhan ini utamanya didorong oleh bisnis digital yang terus berkembang. Peningkatan payload data sebesar 2,3% YoY juga menjadi indikator keberhasilan investasi Telkomsel dalam memperkuat kualitas dan ekspansi jaringan.
Strategi disiplin harga, penyederhanaan produk, dan peningkatan pengalaman pelanggan berhasil mendongkrak Average Revenue Per User (ARPU) menjadi Rp45.100, naik 6,4% YoY. Ini mencerminkan inisiatif perbaikan pasar yang semakin sehat dan kondisi industri yang lebih stabil dan rasional. Telkomsel berkomitmen menjaga ARPU melalui peningkatan produktivitas pelanggan dan inovasi layanan digital lifestyle yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Dian Siswarini menegaskan bahwa industri telekomunikasi masih sangat prospektif, mengingat konektivitas dan internet telah menjadi kebutuhan primer. "Kami optimistis untuk memperkuat ekosistem mobile dan fixed broadband secara berkelanjutan dengan tetap mengutamakan customer experience yang baik," ucapnya.
Momentum Transformasi Pacu Pertumbuhan di Segmen B2B Infrastructure
Segmen B2B Infrastructure Telkom menunjukkan kinerja yang sangat positif dengan pendapatan Rp2,4 triliun, melonjak 6,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini ditopang oleh ekspansi berkelanjutan bisnis Fiber-to-the-Tower (FTTT).
Mitratel, anak usaha yang mengelola bisnis menara telekomunikasi dan FTTT, membukukan pendapatan Rp2,3 triliun, tumbuh 1,4% YoY. Bisnis penyewaan menara dan layanan terkait tetap menjadi kontributor utama stabilitas pendapatan, dengan Mitratel berhasil menjaga margin EBITDA stabil di 82,7%. Sebagai upaya menjadi pemimpin pasar menara telekomunikasi di Asia Tenggara, Mitratel memperkuat portofolio aset fiber optik, menambah 1.080 km fiber optik sepanjang Q1-2026, sehingga total kepemilikannya mencapai 58.279 km. Ini memperkuat kapabilitas Mitratel sebagai Next-Gen Tower Company yang terintegrasi.
Di bisnis data center, pendapatan diperoleh dari fasilitas data center dan colocation NeutraDC Group, serta edge data center NeuCentrIX. Dengan permintaan yang terus meningkat seiring perkembangan industri digital, inisiatif konsolidasi NeutraDC menjadi langkah strategis untuk mengelola seluruh aset data center secara lebih terfokus, membuka peluang perluasan layanan dan monetisasi aset. Sementara itu, unit Wholesale & International Service mencatat pendapatan Rp2,8 triliun, dengan pertumbuhan layanan interkoneksi 18,9% QoQ berkat meningkatnya aktivitas bisnis suara grosir internasional.
Pada segmen B2B ICT, Telkom mencatatkan pendapatan Rp3,1 triliun. Meskipun sedang dalam proses restrukturisasi yang berdampak pada perlambatan jangka pendek, langkah ini merupakan bagian dari upaya perseroan untuk mendorong margin yang lebih sehat, menghilangkan tumpang tindih penawaran produk, dan memperkuat posisi kompetitif di pasar dalam jangka panjang.
Eksekusi Transformasi Berjalan Sesuai Rencana
Pencapaian positif di segmen B2C dan B2B Infrastructure tidak lepas dari keberhasilan transformasi dan percepatan eksekusi strategi TLKM 30. Belanja modal Telkom mencapai Rp4,9 triliun, atau 13,2% dari pendapatan, dengan 99% dialokasikan untuk pengembangan infrastruktur di segmen inti B2C, B2B Infrastructure, dan International, serta sisanya untuk platform digital.
Efisiensi operasional terus diupayakan melalui inisiatif streamlining dan penataan portofolio bisnis berbasis HoldCo-OpCo, termasuk divestasi, merger, maupun likuidasi entitas non-core. Salah satu kemajuan penting adalah divestasi AdMedika Group kepada investor strategis yang ditargetkan selesai pada akhir semester pertama 2026, diharapkan membuka peluang pertumbuhan dan inovasi.
Dari sisi unlock value, Telkom juga sedang dalam persiapan pemisahan bisnis dan aset wholesale fiber connectivity tahap kedua kepada InfraNexia, yang ditargetkan rampung pada kuartal ketiga tahun ini. Proses ini akan mendorong pengelolaan aset fiber yang lebih tangkas dan efisien, serta membuka peluang bisnis lebih luas. InfraNexia diproyeksikan sebagai motor pertumbuhan baru, dengan kontribusi bisnis fiber ditargetkan meningkat dari sekitar 15% menjadi 25% seiring optimalisasi utilisasi infrastruktur.
Telkom juga memperkuat bisnis B2B ICT dan International untuk menangkap potensi kebutuhan industri yang terus berkembang di tengah pesatnya adopsi teknologi berbasis AI. Langkah ini diharapkan menciptakan komposisi pendapatan segmen B2C dan B2B TelkomGroup yang lebih seimbang di masa depan.
Dian Siswarini menutup dengan menegaskan, "Tahun 2026 menjadi periode yang penuh peluang sekaligus tantangan bagi TelkomGroup. Karena itu, kami akan terus mempercepat eksekusi strategi transformasi TLKM 30 dengan tetap mengutamakan prinsip disiplin operasi untuk memperkuat keberlanjutan bisnis, menghadirkan layanan yang semakin inklusif, serta membangun ekosistem digital yang mampu menciptakan dampak lebih luas."




