Jakarta – Fenomena menarik terjadi di sektor perbankan Indonesia. Jumlah rekening simpanan dalam mata uang dolar Amerika Serikat (USD) melonjak drastis pada Mei 2026. Data terbaru dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang dihimpun jabarpos.id menunjukkan, total rekening USD mencapai 8.918.054 unit, sebuah kenaikan signifikan sebesar 58,2% secara tahunan (year-on-year). Angka ini, meski hanya menyumbang 1,3% dari total rekening simpanan di Tanah Air, menjadi sorotan utama.
Lonjakan ini kontras dengan pertumbuhan rekening simpanan rupiah yang pada periode serupa hanya mencatatkan kenaikan 8,4%. Rekening rupiah masih mendominasi dengan 673.138.861 unit, atau 98,7% dari total rekening masyarakat Indonesia.
Tak hanya jumlah rekening, nilai nominal simpanan valuta asing (valas) juga mengalami peningkatan signifikan, mencapai 18,7% secara tahunan per Mei 2026. Totalnya setara dengan Rp1.714,76 triliun, berkontribusi 16,6% dari keseluruhan nominal simpanan masyarakat. Sementara itu, nominal rekening rupiah, meskipun mencapai Rp8.615,16 triliun dan mendominasi dengan 83,4% dari total, pertumbuhannya sebesar 12,4% masih di bawah laju pertumbuhan nominal valas.
Also Read
Lantas, apa pemicu di balik lonjakan fantastis ini? Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), Hery Gunardi, mengungkapkan bahwa pertumbuhan pesat ini tak lepas dari implementasi kebijakan baru terkait Dana Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA). Kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2026 ini mulai berlaku efektif pada 1 Juni 2026, dan secara spesifik mewajibkan 100% penempatan DHE SDA di bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
"Memang ada peningkatan, karena DHE yang masuk di Bank Himbara cukup tinggi," jelas Hery Gunardi, yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), saat ditemui di Gedung Menara Radius Prawiro pada Selasa (14/7/2026). Ia menambahkan, dengan kembalinya hasil ekspor dalam bentuk dolar ke sistem perbankan nasional, khususnya melalui bank-bank BUMN, peningkatan jumlah rekening dolar menjadi konsekuensi logis. "Pasti meningkat kalau DHE hasil ekspornya balik lagi, dan hasil ekspor masuk pasti meningkat," tegasnya.
Di tengah fenomena ini, nilai tukar rupiah terhadap USD sendiri tercatat mengalami pelemahan sekitar 7,5% hingga 8,0% secara year-to-date (YTD). Pada perdagangan hari ini, nilai tukar dolar AS berada di level Rp18.080. Kondisi ini menambah dinamika pasar di tengah derasnya aliran dolar ke rekening perbankan domestik.






