IHSG Berbalik Arah: Bank Jumbo Jadi Kunci

Author Image

Endang Wulansari

17 Juli 2026, 12:04 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa mengejutkan pada penutupan sesi pertama perdagangan Jumat (17/6/2026). Setelah sempat tertekan di zona merah pada pembukaan, indeks acuan pasar modal Indonesia ini berhasil berbalik arah dan ditutup menguat 0,55% atau naik 33,69 poin, parkir di level 6.141,9. Informasi ini dirangkum oleh jabarpos.id.

Pergerakan IHSG sepanjang sesi pertama cukup dinamis, berada di rentang 6.079,32 hingga 6.153,16. Sebanyak 321 saham berhasil menguat, sementara 286 saham lainnya melemah, dan 358 saham stagnan. Total nilai transaksi mencapai Rp 6,93 triliun, melibatkan pertukaran 10,59 miliar saham dalam 1,09 juta kali transaksi.

IHSG Berbalik Arah: Bank Jumbo Jadi Kunci
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Awalnya, IHSG sempat lesu akibat tekanan pada saham-saham bank berkapitalisasi besar. Namun, tak butuh waktu lama, sekitar 30 menit setelah pembukaan pasar, saham-saham bank jumbo tersebut justru mendapatkan apresiasi signifikan dari investor. Sektor finansial pun menjadi satu-satunya pendorong utama IHSG siang ini, di saat sektor-sektor lain masih berkutat di zona merah.

Empat bank raksasa menjadi motor penggerak utama. Bank Mandiri (BMRI) melesat 3,25%, disusul Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dengan kenaikan 3,15%, Bank Negara Indonesia (BBNI) 2,57%, dan Bank Central Asia (BBCA) 2,41%. Kontribusi keempat bank ini terhadap kenaikan IHSG nyaris mencapai 20 poin.

Di sisi lain, DCI Indonesia (DCII) masih menjadi penghambat laju IHSG. Emiten milik Toto Sugiri ini tercatat turun 3,94%, meskipun hanya dengan volume transaksi 1 lot, namun bebannya terhadap indeks mencapai 7,94 poin.

Pergerakan pasar hari ini juga dipengaruhi oleh serangkaian data makroekonomi penting yang dirilis kemarin. Dari Amerika Serikat, data pasar tenaga kerja dan konsumsi ritel mengkonfirmasi ketahanan ekonomi terbesar di dunia itu. Selain itu, perhatian global juga mulai tertuju pada puncak Piala Dunia 2026 yang akan segera tiba.

Di ranah domestik, iklim ekonomi menunjukkan performa yang tak kalah impresif. Realisasi investasi kuartal kedua mencetak rekor baru, dan yang tak kalah penting, peresmian proyek gas raksasa di Maluku menjadi sorotan.

Presiden Prabowo Subianto secara langsung meresmikan proyek gas raksasa Lapangan Abadi, Blok Masela, di Kepulauan Tanimbar, Maluku, pada Kamis (16/7/2026). Proyek strategis senilai US$ 20,95 miliar atau setara Rp390 triliun ini akhirnya terealisasi setelah tertunda hampir 28 tahun dan melewati enam era kepresidenan.

Dikelola oleh konsorsium Inpex, Pertamina, dan Petronas, Blok Masela diproyeksikan mampu memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 MMSCFD gas pipa, serta 35.000 barel kondensat per hari. Produksi ini akan sangat vital dalam mendukung agenda hilirisasi dan ketahanan energi nasional.

Lebih lanjut, proyek ini juga dilengkapi dengan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (Carbon Capture and Storage/CCS) untuk menekan emisi, menjadikannya salah satu pusat industri energi terbersih dan terbesar di kawasan Indonesia Timur. Diperkirakan, proyek ini mampu menyerap hingga 10.000 tenaga kerja.

Terpisah, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan capaian realisasi investasi sepanjang semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, menunjukkan pertumbuhan 7,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa realisasi tersebut telah mencapai 49,5% dari target investasi 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun. Pemerintah optimistis target tahunan dapat tercapai. Capaian investasi ini juga berhasil menyerap 1,44 juta tenaga kerja, meningkat 15% dibandingkan semester I-2025.

Related Post