Sebuah klaim penemuan "gunung emas" fantastis di Kalimantan pada tahun 1990-an pernah menggemparkan jagat pertambangan global dan Indonesia. Perusahaan tambang asal Kanada, Bre-X, mengumumkan cadangan emas mencapai 53 juta ton di Busang, Kalimantan Timur. Namun, euforia tersebut berujung pada salah satu skandal penipuan terbesar dalam sejarah pertambangan. Kisah ini, yang diulas kembali oleh jabarpos.id, menjadi pelajaran pahit tentang investasi dan verifikasi.
Emas, logam mulia yang selalu menjadi primadona investasi, memang memiliki daya tarik tak lekang oleh waktu, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi. Tak heran jika kabar mengenai cadangan emas melimpah ruah di jantung Kalimantan mampu menyedot perhatian dunia, menjanjikan kekayaan tak terhingga bagi para investor.
Bre-X, yang awalnya dikenal sebagai perusahaan tambang ‘gurem’ atau kecil, memulai ekspedisi ke pedalaman Kalimantan Timur pada tahun 1993. Dipimpin oleh ahli geologi John Felderhof, mereka mengklaim menemukan potensi emas luar biasa di wilayah bernama Busang. Pengumuman fantastis tentang ‘gunung emas’ 53 juta ton ini sontak melambungkan saham Bre-X di bursa Kanada, mengubah nilai perusahaan dari yang semula tidak signifikan menjadi triliunan rupiah dalam waktu singkat.
Also Read
Gelombang euforia ini tak hanya terasa di Kanada, tetapi juga merambah ke lingkaran elite Indonesia. Para pengusaha papan atas dan orang-orang dekat Presiden Soeharto, seperti Bob Hasan dan putra Presiden, Sigit, tak luput dari godaan ‘emas Busang’. Mereka berbondong-bondong mengamankan bagian, dengan Bob Hasan mengakuisisi saham di perusahaan penguasa area penambangan, sementara Sigit bahkan menerima bayaran jutaan dolar untuk menjadi konsultan.
Namun, bisnis di Indonesia tak semudah yang dibayangkan Bre-X. Presiden Soeharto, yang menginginkan perusahaan asing berbagi saham dan bekerja sama dengan pemerintah, menunjuk PT Freeport-McMoran, raksasa tambang global, untuk mewakili kepentingan negara dalam proyek Busang. Keputusan inilah yang secara tak langsung menjadi awal terkuaknya tabir di balik ‘gunung emas’ Busang.
Sebagai perusahaan profesional, Freeport menjalankan prosedur ketat, termasuk verifikasi lapangan dan pengambilan sampel batuan untuk diuji di laboratorium. Di tengah proses verifikasi krusial ini, pada 19 Maret 1997, kabar mengejutkan datang: Michael de Guzman, Direktur Eksplorasi Bre-X, dilaporkan tewas bunuh diri dengan melompat dari helikopter dalam perjalanan Samarinda-Busang. Penemuan mayat yang diyakini Guzman, lengkap dengan surat wasiat, memicu kecurigaan, terutama dari jurnalis investigasi Bondan Winarno, yang meragukan identitas mayat tersebut.
Kecurigaan itu menemukan benang merahnya saat hasil verifikasi Freeport dirilis. Laporan tersebut, yang kemudian dikonfirmasi oleh berbagai peneliti independen, secara telak menyatakan bahwa tanah Busang, yang selama ini digembar-gemborkan sebagai ‘gunung emas’, ternyata tidak mengandung emas sama sekali. Tidak ada jejak emas di batuan Busang dari tahun 1995 hingga 1997.
Skandal ini sontak mengguncang Indonesia dan pasar saham global. Presiden Soeharto dikabarkan merasa tertipu, saham Bre-X anjlok drastis, dan para investor yang merugi mengamuk, bahkan menyandera bos Bre-X, David Walsh, menuntut pengembalian uang mereka. Meskipun kasus ini mereda seiring waktu, misteri hilangnya Michael de Guzman tak pernah terpecahkan. Keluarganya hingga kini meyakini bahwa Guzman masih hidup, kemungkinan besar mengasingkan diri di Amerika Selatan, meninggalkan jejak pertanyaan besar yang tak terjawab dalam salah satu penipuan pertambangan paling legendaris.






