Kabar gembira datang bagi para investor PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Raksasa keuangan global, JP Morgan, secara mengejutkan mengumumkan peningkatan rekomendasi saham BBRI dari sebelumnya ‘Underweight’ menjadi ‘Overweight’. Tak hanya itu, target harga saham bank pelat merah ini juga ikut dikerek naik signifikan, dari Rp2.730 menjadi Rp3.400. Keputusan ini, seperti dilaporkan jabarpos.id, didasari oleh prospek kualitas aset di segmen mikro yang membaik serta valuasi saham yang dinilai sudah sangat menarik.
Dalam laporan riset terbarunya berjudul ‘Micro trumps macro; tactical upgrade to OW’ yang dirilis pada 19 Juli 2026, JP Morgan menyoroti penurunan risiko kualitas aset pada portofolio kredit mikro BBRI. Selain itu, risiko yang terkait dengan kredit Agrinas juga diperkirakan lebih rendah. Potensi subsidi sebesar 10% untuk pinjaman PNM juga dilihat sebagai faktor positif yang berpotensi mengurangi tekanan pada margin bunga bersih (NIM) perseroan.
Dengan membaiknya prospek tersebut, JP Morgan merevisi naik proyeksi laba per saham (EPS) BBRI untuk periode 2026-2028 sebesar 3-6%. Kenaikan proyeksi ini utamanya didorong oleh ekspektasi biaya pencadangan kredit (credit cost) yang lebih rendah, menandakan kepercayaan terhadap kesehatan portofolio pinjaman BBRI di masa mendatang.
Also Read
Selain faktor fundamental, valuasi saham BBRI juga menjadi daya tarik utama bagi JP Morgan. Saat ini, saham BBRI diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba (PE) sekitar 7,3 kali dan rasio harga terhadap nilai buku (PBV) 1,31 kali. Angka-angka ini menempatkan valuasi BBRI pada posisi 2,2 hingga 2,6 standar deviasi di bawah rata-rata historisnya, mengindikasikan bahwa saham ini tergolong undervalued. Bahkan, dibandingkan dengan bank-bank BUMN besar lainnya seperti BMRI dan BBNI, valuasi BBRI dinilai lebih kompetitif.
Menurut analisis JP Morgan, kondisi valuasi yang rendah ini menunjukkan bahwa sebagian besar sentimen negatif yang sempat membayangi BBRI telah tercermin sepenuhnya pada harga saham. Dengan berkurangnya risiko penurunan kualitas aset, JP Morgan melihat adanya potensi reli harga saham dalam jangka pendek. Optimisme ini juga diperkuat oleh perbaikan signifikan dalam operasional bisnis mikro BBRI.
Perseroan telah berhasil menurunkan jumlah debitur mikro yang ditangani oleh setiap mantri menjadi 456, dari sebelumnya 528 pada tahun 2022. Langkah ini membuat pengawasan dan penagihan kredit menjadi jauh lebih efektif, dengan target rasio mendekati 400 debitur per mantri. Lebih lanjut, berbagai program pemerintah seperti program makan bergizi gratis, pembentukan koperasi, dan penyaluran subsidi, dinilai mulai memberikan dampak positif pada arus kas masyarakat lapisan bawah. Kondisi ini secara langsung menopang kualitas kredit mikro dan mendorong pertumbuhan dana murah (deposit mikro) bagi BBRI.
Meskipun demikian, JP Morgan tidak mengabaikan adanya tekanan terhadap NIM akibat kenaikan biaya dana (cost of fund) dan penyesuaian imbal hasil pinjaman PNM. Namun, risiko-risiko tersebut diyakini sebagian besar telah diperhitungkan dalam harga saham saat ini. Oleh karena itu, potensi kenaikan harga saham BBRI dalam jangka pendek tetap terbuka lebar, memberikan angin segar bagi para investor.






