Era AI Mengubah Total Bank Sentral

Author Image

Endang Wulansari

5 Agustus 2026, 08:04 WIB

Bali – Bank sentral di seluruh dunia kini dihadapkan pada gelombang tantangan yang kian kompleks, mulai dari fragmentasi geoekonomi, percepatan transformasi digital, hingga meningkatnya risiko sistemik. Demikian peringatan yang disampaikan Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, seperti dilaporkan jabarpos.id. Destry menegaskan hal ini saat membuka Konferensi Internasional Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) ke-20 dan Call for Papers di Bali pada 31 Juli 2026.

Dalam pidatonya, Destry menyoroti bahwa pendekatan kebijakan yang selama ini berjalan secara sektoral sudah tidak lagi memadai. Bank sentral dituntut untuk mengintegrasikan berbagai instrumen kebijakan, meliputi moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, pasar keuangan, serta koordinasi erat dengan kebijakan fiskal. Konferensi tahun ini sendiri mengusung tema relevan: "Central Banking at the Crossroads of Geoeconomic Fragmentation, Digital Transformation, and Systemic Risks".

Era AI Mengubah Total Bank Sentral
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Untuk menjawab dinamika global yang berubah pesat ini, Destry menegaskan bahwa riset bank sentral harus diarahkan pada empat agenda prioritas utama yang relevan dengan lanskap ekonomi dan keuangan global saat ini.

Prioritas pertama adalah memperkuat pemahaman mengenai transmisi kebijakan moneter, terutama di tengah meningkatnya fragmentasi geoekonomi yang kini memengaruhi perdagangan, investasi, dan arus modal global secara signifikan. Kedua, mendalami kajian terkait perkembangan keuangan digital dan implikasinya terhadap kebijakan bank sentral. Kajian ini mencakup sistem pembayaran digital, kecerdasan artifisial (AI), teknologi finansial (fintech), aset kripto, hingga mata uang digital bank sentral (CBDC).

Selanjutnya, Bank Indonesia juga menekankan pentingnya pengembangan pengukuran risiko sistemik dan pengawasan makrofinansial yang mampu mengantisipasi berbagai risiko baru, seperti ancaman siber, dampak perubahan iklim, tekanan likuiditas, hingga risiko lintas negara. Agenda keempat berfokus pada penguatan kredibilitas kelembagaan dan komunikasi kebijakan demi menjaga kepercayaan publik terhadap otoritas moneter.

Destry menutup pernyataannya dengan menegaskan komitmen Bank Indonesia untuk terus memperkuat ekosistem riset yang berkualitas dan relevan. Hal ini penting guna mendukung perumusan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policymaking) di tengah perubahan lanskap ekonomi dan keuangan global yang terus bergejolak.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung turut menyoroti urgensi koordinasi kebijakan di tengah ketidakpastian global yang semakin tinggi. Menurut Juda, otoritas ekonomi kini menghadapi tantangan yang dikenal sebagai "trilema kebijakan", yaitu upaya menjaga stabilitas nilai tukar, mobilitas arus modal, dan independensi kebijakan moneter secara bersamaan.

Oleh karena itu, ia menekankan bahwa kebijakan moneter tidak dapat bekerja sendiri. Stabilitas ekonomi memerlukan dukungan kuat dari kebijakan fiskal, kebijakan makroprudensial, serta pengelolaan likuiditas yang saling melengkapi. Juda menilai, koordinasi yang solid antarotoritas menjadi faktor krusial untuk menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Konferensi BMEB tahun ini juga menjadi forum penting untuk membahas berbagai isu strategis yang menjadi perhatian bank sentral dan pembuat kebijakan di seluruh dunia. Dalam sesi terkait fragmentasi geoekonomi, para akademisi menyoroti semakin besarnya pengaruh guncangan global terhadap kebijakan moneter, perdagangan, dan investasi. Kondisi ini menuntut penguatan koordinasi kebijakan, penggunaan analisis berbasis skenario, serta kerja sama internasional guna menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan investasi.

Sementara itu, pada tema transformasi digital, diskusi berfokus pada pesatnya perkembangan digitalisasi, kecerdasan artifisial (AI), dan inovasi keuangan yang secara fundamental mengubah lanskap sistem pembayaran, uang, dan pasar keuangan global. Para pembicara turut membahas berbagai bentuk uang digital, mulai dari stablecoins, tokenized deposits, hingga wholesale central bank digital currencies (CBDC). Mereka juga menekankan pentingnya membangun ekosistem keuangan digital yang lebih efisien, saling terhubung (interoperable), dan tangguh (resilient) untuk menghadapi tantangan masa depan.

Konferensi internasional BMEB ini dihadiri oleh peneliti, akademisi, pembuat kebijakan, serta berbagai lembaga internasional, menjadikannya wadah vital untuk pertukaran gagasan dan pengalaman dalam merumuskan rekomendasi kebijakan. Minat terhadap konferensi ini tercermin dari tingginya partisipasi dalam Call for Papers BMEB 2026, dengan 354 naskah lengkap dari 34 negara masuk dalam proses seleksi. Melalui forum ini, Bank Indonesia berharap kolaborasi antara akademisi dan pembuat kebijakan dapat terus diperkuat guna menghasilkan riset yang relevan dan mendukung perumusan kebijakan berbasis bukti di tengah perubahan ekonomi dan keuangan global yang berlangsung semakin cepat.

Related Post