Jakarta – Sesi perdagangan Selasa (11/08/2026) pagi diwarnai sentimen negatif yang signifikan di pasar keuangan domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS sama-sama terperosok ke zona pelemahan, demikian dilaporkan jabarpos.id.
Setelah sempat dibuka menguat, IHSG berbalik arah dan terkoreksi 0,48%, menetap di level 6.335 pada pukul 10:05 WIB. Senada, Rupiah juga tidak mampu mempertahankan posisinya, melemah 0,34% hingga menyentuh angka Rp 17.810 per Dolar AS. Gejolak ini sontak menarik perhatian para pelaku pasar yang mencari tahu penyebab di balik koreksi mendadak tersebut.
Di tengah dinamika pasar yang fluktuatif ini, perhatian publik juga tertuju pada proses pemantauan calon Gubernur Bank Indonesia (BI). Perkembangan terkait figur pimpinan bank sentral ini seringkali menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan investor dalam menganalisis arah kebijakan moneter ke depan.
Also Read
Sementara itu, di ranah pasar komoditas global, harga emas justru menunjukkan tren yang berlawanan. Logam mulia ini melambung tinggi, memicu fenomena Fear of Missing Out (FOMO) di kalangan investor yang berbondong-bondong memburu aset safe haven tersebut di tengah ketidakpastian ekonomi.
Harga minyak mentah juga ikut terangkat. Kenaikan ini dipicu oleh memudarnya harapan akan tercapainya kesepakatan damai di Selat Hormuz, sebuah jalur pelayaran vital yang kerap menjadi titik panas geopolitik dan memengaruhi pasokan energi global.
Kombinasi antara koreksi di pasar saham dan mata uang domestik, serta pergerakan signifikan di pasar komoditas global, mengindikasikan adanya sentimen kehati-hatian yang mendominasi pasar keuangan di awal pekan ini. Analisis lebih mendalam mengenai fenomena ini dapat disimak dalam program Profit CNBC Indonesia.






