Situasi geopolitik global kembali menjadi sorotan utama pasar keuangan pada Rabu, 12 Agustus. jabarpos.id melaporkan bahwa kebuntuan dalam perundingan antara Amerika Serikat dan Iran terus memicu kekhawatiran, yang berdampak langsung pada lonjakan harga komoditas energi seperti minyak dan batubara. Di sisi lain, pasar domestik Indonesia menunjukkan pergerakan yang beragam, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menguat tipis namun nilai tukar Rupiah masih tertekan.
Perundingan alot antara Washington dan Teheran menjadi pemicu utama di pasar komoditas. Ketidakpastian mengenai pasokan minyak global akibat lambatnya progres negosiasi ini membuat harga minyak mentah bertahan kokoh di atas level USD 89 per barel. Tak hanya minyak, harga batubara juga ikut terkerek naik, menunjukkan sensitivitas pasar terhadap dinamika geopolitik dan potensi gangguan pasokan energi.
Di tengah gejolak pasar komoditas global, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia menunjukkan ketahanan. Pada perdagangan pukul 10:03 WIB, indeks berhasil menguat 0,54%, mencapai level 6.301. Namun, apresiasi IHSG tidak diikuti oleh mata uang Garuda. Nilai tukar Rupiah terpantau masih melemah, bergerak di kisaran Rp 17.860 per Dolar AS, mencerminkan tekanan dari sentimen global dan permintaan dolar yang tinggi.
Also Read
Sementara itu, komoditas emas menunjukkan stabilitas. Harga emas terpantau tidak banyak bergerak, bertahan di level USD 4.370 per troy ons, mengindikasikan bahwa investor mungkin masih mencari aset safe haven namun dengan volatilitas yang minim. Analisis mendalam mengenai dinamika pasar ini sebelumnya telah diulas oleh Mercy Widjaja dalam program Profit CNBC Indonesia.






