Jabarpos.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang kurang menggembirakan pada perdagangan sesi pertama, Jumat (25/9/2026). Setelah sempat menunjukkan optimisme di awal pembukaan pasar, indeks justru berbalik arah dan terjerumus ke zona merah. Hingga penutupan sesi pertama, IHSG tercatat melemah sebesar 0,55 persen atau merosot 34,88 poin ke level 6.263,73.
Padahal, jika menilik pergerakan di awal perdagangan, pasar sempat memberikan sinyal positif. IHSG dibuka menguat di level 6.315,53 dan bahkan sempat menyentuh titik tertinggi di angka 6.328,41. Namun, euforia tersebut tidak bertahan lama. Tekanan jual yang masif mulai mendominasi pasar sepanjang sesi berlangsung, yang akhirnya menyeret indeks hingga menyentuh level terendah di 6.261,47 sebelum akhirnya tertahan di level 6.263,73.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Bursa Efek Indonesia (BEI), dominasi sentimen negatif terlihat jelas dari komposisi pergerakan saham. Sebanyak 540 saham mengalami penurunan harga, sementara 275 saham lainnya cenderung stagnan atau tidak bergerak. Di sisi lain, hanya terdapat 148 saham yang mampu bertahan dan mencatatkan penguatan.
Also Read
Dari sisi aktivitas transaksi, data Stockbit menunjukkan volume perdagangan mencapai 14,57 miliar saham. Angka ini sedikit lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata volume harian yang biasanya menyentuh 17,44 miliar saham. Meski demikian, nilai transaksi yang berputar di pasar tetap cukup signifikan, yakni menembus angka Rp4.344,17 triliun dengan total 145,74 juta lot yang diperdagangkan.
Pelemahan ini tidak lepas dari berbagai tekanan global yang sedang membayangi pasar keuangan. Salah satu pemicu utamanya adalah ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat. Pejabat Federal Reserve (The Fed) memberikan sinyal bahwa suku bunga AS masih berpotensi naik guna meredam inflasi yang dianggap masih terlalu tinggi. Anna Paulson, Presiden Philadelphia Fed, menyebut inflasi masih bersifat "membandel", sementara John Williams dari New York Fed menilai kenaikan suku bunga di akhir 2026 adalah langkah yang masuk akal.
Kondisi ini diperparah dengan melonjaknya imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS ke level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Lonjakan yield obligasi tenor 30 tahun yang menembus 5,48% telah memicu aksi jual obligasi secara global. Hal ini berdampak pada meningkatnya biaya pinjaman di seluruh dunia, yang berisiko menekan pertumbuhan ekonomi global.
Di pasar domestik, investor kini tengah mencermati sejumlah isu krusial, mulai dari pertumbuhan uang beredar, upaya Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, hingga pembahasan postur APBN 2027. Sementara itu, dinamika geopolitik di Timur Tengah dan fluktuasi harga minyak dunia tetap menjadi faktor eksternal yang wajib diwaspadai oleh para pelaku pasar dalam menutup pekan perdagangan ini.






