Mengapa Investor Asing Kabur dari Indonesia

Author Image

Endang Wulansari

25 September 2026, 15:04 WIB

Jabarpos.id – Pasar keuangan Indonesia tengah menghadapi badai tekanan yang cukup signifikan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah menunjukkan tren pelemahan yang cukup mengkhawatirkan pada penutupan perdagangan sesi pertama, Jumat (25/09). Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar mengenai stabilitas ekonomi domestik di tengah dinamika global yang kian tidak menentu.

Berdasarkan data perdagangan terbaru, IHSG mengalami koreksi sebesar 0,55 persen dan terperosok ke level 6.263. Tidak hanya pasar saham yang memerah, nilai tukar Rupiah pun turut merosot tajam. Mata uang Garuda kini harus berjuang menghadapi penguatan dolar Amerika Serikat dengan posisi di level Rp 17.900 per dolar AS. Fenomena ini menandakan adanya tekanan jual yang masif, baik di pasar ekuitas maupun pasar valuta asing.

Mengapa Investor Asing Kabur dari Indonesia
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Menanggapi situasi ini, pakar analisis valuta asing dari tim riset, Elvan Chandra Widyatama, menjelaskan bahwa pelemahan ini bukanlah tanpa alasan. Menurutnya, pasar keuangan Indonesia sedang dihantam oleh sentimen eksternal yang sangat kuat. Faktor utama yang menjadi pemicu adalah kebijakan moneter Amerika Serikat yang agresif.

Elvan mengungkapkan bahwa kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve (The Fed) menjadi katalis utama yang membuat investor global cenderung menarik modal mereka dari negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia. Kenaikan suku bunga di Amerika Serikat membuat instrumen investasi di sana menjadi jauh lebih menarik dan aman bagi investor besar.

Kondisi ini diperparah dengan melonjaknya imbal hasil (yield) US Treasury. Ketika imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat naik, aliran modal cenderung bergerak kembali ke Amerika Serikat (capital outflow). Akibatnya, investor asing melakukan aksi jual besar-besaran terhadap aset-aset di Indonesia, mulai dari saham hingga surat utang, demi mengejar keuntungan yang lebih pasti di Negeri Paman Sam.

Lebih lanjut, Elvan memberikan peringatan mengenai prospek nilai tukar Rupiah ke depan. Mengingat indeks dolar AS yang terus menunjukkan tren penguatan yang dominan, ada potensi pelemahan lanjutan bagi mata uang kita. Ia memproyeksikan bahwa Rupiah bisa saja menyentuh level psikologis Rp 18.000 per dolar AS jika tekanan terhadap dolar tidak segera mereda.

Situasi ini menuntut kewaspadaan tinggi bagi para investor domestik. Ketidakpastian arah kebijakan The Fed dan fluktuasi pasar global membuat pergerakan IHSG dan Rupiah menjadi sangat volatil. Para pelaku pasar kini tengah menanti langkah kebijakan dari Bank Indonesia untuk meredam dampak dari arus modal keluar tersebut agar stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah gempuran sentimen global.

Related Post