Strategi Jitu BI Tarik Modal Asing

Author Image

Endang Wulansari

11 Oktober 2026, 12:31 WIB

Jabarpos.id – Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk tidak mengikuti langkah agresif bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), dalam menaikkan suku bunga ternyata membuahkan hasil yang sangat manis. Di tengah tren kebijakan moneter global yang cenderung ketat atau hawkish, Indonesia justru berhasil mencatatkan arus masuk modal asing (inflow) yang sangat signifikan, mencapai angka US$ 8 miliar.

Langkah berani ini diambil setelah The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuannya pada pertemuan September 2026. Alih-alih ikut menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) demi menjaga stabilitas rupiah, BI memilih untuk tetap tenang dan menggunakan pendekatan yang lebih komprehensif. Gubernur BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa kebijakan BI didasarkan pada analisis dampak menyeluruh terhadap berbagai segmen ekonomi, bukan sekadar reaksi sesaat terhadap pergerakan dolar AS.

Strategi Jitu BI Tarik Modal Asing
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Destry mengungkapkan bahwa BI sebenarnya telah melakukan langkah antisipasi jauh sebelumnya. Pada periode Mei hingga Juni 2026, BI sudah lebih dulu menaikkan suku bunga acuan sebagai bentuk kebijakan forward looking. Dengan langkah proaktif tersebut, BI merasa memiliki bantalan yang cukup kuat untuk menjaga inflasi tetap terkendali dan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga tanpa harus terus-menerus menaikkan suku bunga di tengah tekanan global.

Alih-alih menggunakan instrumen suku bunga yang dapat membebani sektor riil, BI memilih jalur insentif untuk menarik minat investor mancanegara. Salah satu strategi kunci yang dijalankan adalah pemberian insentif biaya hedging atau lindung nilai. Kebijakan ini dirancang khusus untuk mempermudah aliran dana asing masuk ke pasar domestik.

"Kami mengeluarkan insentif untuk biaya hedging agar dana asing bisa masuk lebih mudah. Per September kemarin, kami menaikkan besaran insentif hingga 30% untuk pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan 25% untuk transaksi swap," ujar Destry dalam sebuah kesempatan wawancara eksklusif.

Tujuan utama dari insentif DNDF ini adalah untuk mendorong investor asing melakukan konversi mata uang. Dengan skema ini, investor asing yang masuk dapat melakukan lindung nilai melalui DNDF, sementara di pasar spot, mereka akan menjual dolar mereka. Hal ini secara otomatis menambah pasokan valuta asing di pasar domestik, yang pada akhirnya memperkuat posisi rupiah.

Hasilnya sangat nyata. Selain aliran dana sebesar US$ 8 miliar, Indonesia juga mendapatkan keuntungan tambahan berupa aliran dana sebesar 200 juta yen. Dampak positif ini juga terlihat pada stabilitas nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level psikologis Rp17.500 per dolar AS pada September 2026.

Selain insentif hedging, BI juga memperkuat Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM). BI memberikan stimulus berupa pengurangan Giro Wajib Minimum (GWM) hingga 2% bagi perbankan. Namun, kebijakan ini memiliki syarat ketat: bank-bank tersebut tidak diperbolehkan menempatkan dana secara berlebihan pada surat berharga, melainkan wajib menyalurkan kreditnya kepada masyarakat guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Melalui kombinasi kebijakan yang presisi ini, BI berhasil membuktikan bahwa menjaga stabilitas ekonomi tidak selalu harus melalui kenaikan suku bunga yang mencekik.

Related Post