Jabarpos.id – Dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian kini menjadi tantangan besar bagi otoritas moneter di berbagai belahan dunia, tidak terkecuali bagi Indonesia. Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa situasi geopolitik yang memanas saat ini memberikan tekanan signifikan terhadap stabilitas ekonomi nasional maupun global.
Salah satu faktor utama yang menjadi sorotan adalah konflik di kawasan Timur Tengah yang terus berlanjut. Gejolak di wilayah tersebut tidak hanya menciptakan ketidakstabilan politik, tetapi juga mengganggu rantai pasok global secara luas. Dampak domino dari gangguan ini adalah melonjaknya inflasi di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat. Selain itu, kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury serta penguatan indeks dolar AS semakin memperkeruh kondisi pasar keuangan internasional.
Kondisi yang sering disebut sebagai fenomena ‘higher for longer’ ini telah memicu sentimen negatif di pasar keuangan global. Akibatnya, terjadi aliran modal keluar (capital outflow) dari negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia. Fenomena ini secara langsung memberikan tekanan pada pasar domestik dan memicu pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Also Read
Menanggapi pertanyaan mengenai langkah Bank Indonesia yang memilih untuk tidak menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) meskipun Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) baru saja menaikkan Fed Funds Rates sebesar 25 basis poin pada September 2026, Destry memberikan penjelasan mendalam. Menurutnya, keputusan tersebut bukanlah sebuah keterlambatan, melainkan bagian dari strategi antisipasi yang telah dipersiapkan sebelumnya.
"Langkah ini merupakan bagian dari strategi looking forward. Bank Indonesia sebenarnya sudah melakukan langkah-langkah antisipasi terhadap pergerakan ini pada bulan-bulan sebelumnya," ujar Destry dalam sebuah dialog ekonomi baru-baru ini.
Selain menjaga stabilitas melalui suku bunga, BI juga bergerak aktif untuk menarik kembali aliran modal asing (capital inflow) ke dalam negeri. Salah satu instrumen yang digunakan adalah melalui kebijakan insentif biaya lindung nilai (hedging). Kebijakan ini dirancang untuk memberikan rasa aman dan meningkatkan kepercayaan para investor mancanegara agar bersedia menempatkan dana mereka di pasar keuangan Indonesia.
Destry menegaskan bahwa Bank Indonesia akan terus memantau secara ketat setiap pergerakan sentimen global, mulai dari fluktuasi harga minyak mentah dunia hingga kebijakan suku bunga The Fed. Melalui bauran kebijakan yang komprehensif, BI berkomitmen untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar rupiah dan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional agar tetap resilien di tengah badai volatilitas global. Melansir laporan dari jabarpos.id, langkah proaktif ini diharapkan mampu meredam dampak negatif dari ketidakpastian ekonomi dunia.






