Jabarpos.id – Dunia militer Amerika Serikat tengah diguncang oleh skandal besar yang melibatkan penyalahgunaan informasi rahasia negara demi keuntungan pribadi. Seorang anggota tentara aktif, Gannon Ken Van Dyke, kini berada di ambang jeruji besi dengan ancaman hukuman hingga 20 tahun penjara. Ia diduga kuat melakukan praktik perdagangan orang dalam atau insider trading yang sangat rapi untuk meraup keuntungan fantastis dari pasar prediksi.
Kasus ini mencuat setelah Van Dyke diduga memanfaatkan data sensitif mengenai operasi militer Amerika Serikat yang bertujuan untuk menangkap pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro. Berdasarkan dokumen dakwaan federal, Van Dyke tidak menggunakan informasi rahasia tersebut untuk kepentingan negara, melainkan untuk memasang taruhan besar di Polymarket, sebuah platform pasar prediksi berbasis teknologi blockchain.
Melalui serangkaian taruhan yang sangat strategis, tentara yang bertugas di Fort Bragg, North Carolina ini diduga berhasil mengantongi keuntungan bersih lebih dari US$400.000 atau setara dengan Rp7,2 miliar. Modus operandi yang dijalankannya tergolong sangat berisiko namun terencana.
Also Read
Menurut laporan yang dihimpun, Van Dyke mulai melakukan aktivitas mencurigakan ini pada periode Desember hingga Januari. Ia tercatat memasang sekitar 13 taruhan dengan total nilai modal awal mencapai US$33.034. Taruhan-taruhan tersebut mencakup prediksi spesifik seperti keterlibatan pasukan AS di Venezuela dan kemungkinan jatuhnya kekuasaan Maduro sebelum akhir Januari.
Setelah berhasil memenangkan taruhan dan meraih keuntungan miliaran rupiah, Van Dyke tidak lantas berhenti. Ia diduga berusaha menyamarkan jejak keuangannya dengan memindahkan sebagian besar dana tersebut ke dalam brankas kripto di luar negeri. Langkah ini kemudian diikuti dengan pengalihan dana ke akun broker daring baru guna menghindari deteksi otoritas keuangan.
Pelaksana tugas Jaksa Agung AS, Todd Blanche, memberikan pernyataan keras terkait insiden ini. Ia menegaskan bahwa setiap personel militer diberikan akses terhadap informasi rahasia demi kelancaran misi keamanan nasional, bukan untuk dijadikan alat mencari kekayaan pribadi. Blanche juga mengingatkan bahwa meskipun pasar prediksi berbasis teknologi baru kini semakin marak, hukum federal mengenai perlindungan keamanan nasional tetap berlaku mutlak tanpa pengecualian.
Saat ini, Van Dyke menghadapi berbagai tuntutan hukum berat, termasuk pelanggaran Commodity Exchange Act, penipuan melalui transmisi elektronik (wire fraud), serta transaksi moneter ilegal. Setiap dakwaan tersebut membawa konsekuensi hukuman penjara yang sangat panjang.
Pihak Polymarket sendiri menyatakan telah bekerja sama penuh dengan Departemen Kehakiman AS untuk mengidentifikasi pengguna yang diduga memanfaatkan informasi pemerintah secara ilegal. Kasus yang semula ditangani di North Carolina ini kini telah dialihkan ke pengadilan federal Manhattan untuk proses hukum lebih lanjut. Hingga berita ini diturunkan, pihak Angkatan Darat AS maupun Pentagon belum memberikan komentar resmi terkait status kedinasan Van Dyke.






