Jabarpos.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang sangat impresif dengan lonjakan hingga 3 persen pada perdagangan terbaru. Kenaikan signifikan ini tidak lepas dari peran krusial emiten-emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menjadi motor penggerak utama di pasar modal.
Berdasarkan data terbaru dari Refinitiv pada pukul 09.37 WIB, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BBRI muncul sebagai pahlawan utama dalam pergerakan indeks ini. Saham BBRI memberikan kontribusi terbesar di kelompok BUMN dengan menyumbang 14,95 poin atau setara 0,30 persen terhadap kenaikan indeks. Saat ini, saham BBRI tercatat diperdagangkan pada level Rp2.760 per lembar.
Menyusul di posisi kedua, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. atau TLKM juga turut memperkuat laju indeks dengan sumbangan sebesar 10,82 poin atau 0,21 persen, dengan harga saham berada di angka Rp2.010. Tak hanya dua raksasa tersebut, dua bank pelat merah lainnya, yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), juga masuk dalam jajaran sepuluh besar pendorong penguatan IHSG. BMRI menyumbang 7,92 poin (0,16%) di level Rp3.670, sementara BBNI menyumbang 4,91 poin (0,10%) di level Rp3.280.
Also Read
Di tengah euforia pasar domestik, para investor kini tengah menanti rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026 yang dijadwalkan oleh BPS pada Kamis (5/11/2026) pukul 11.00 WIB. Konsensus pasar memprediksi pertumbuhan ekonomi nasional akan berada di angka 5,20 persen secara tahunan (yoy). Selain itu, perhatian juga tertuju pada rapat Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang akan memberikan gambaran mengenai kesehatan sektor perbankan dan pasar modal.
Kondisi pasar global juga memberikan warna tersendiri. Di Amerika Serikat, dinamika politik pasca pemilu paruh waktu yang memenangkan Partai Demokrat memberikan dampak luas. Kemenangan Demokrat di Senat dan DPR AS diprediksi akan membatasi ruang gerak kebijakan Presiden Donald Trump, terutama terkait konflik AS-Iran. Hal ini berdampak langsung pada anjloknya harga minyak dunia lebih dari 8 persen. Minyak Brent merosot ke level US$94,62 per barel, sementara WTI turun ke US$88,12 per barel, menyusul kekhawatiran bahwa tekanan politik baru akan mendorong negosiasi damai yang mengakhiri ketegangan militer.
Sementara itu, data tenaga kerja AS menunjukkan ketahanan yang cukup baik dengan penambahan 86.000 pekerjaan pada Oktober 2026, melampaui ekspektasi pasar. Di sisi lain, pelaku pasar global juga sedang memantau rilis inflasi produsen (PPI) di Zona Euro untuk mengukur potensi kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) ke depan. Kombinasi antara penguatan saham domestik dan dinamika geopolitik global ini menjadikan pekan ini sebagai periode yang sangat krusial bagi para pelaku pasar.






