Jabarpos.id – Dunia bisnis Indonesia tengah bersiap menyambut gelombang investasi besar dari kawasan Timur Tengah. Konglomerat sekaligus pendiri Sriwijaya Capital, Arsjad Rasjid, secara agresif mulai membidik aliran dana dari negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk dialirkan ke berbagai sektor produktif di tanah air. Langkah strategis ini diambil guna memperkuat ekonomi nasional dan menciptakan lapangan kerja baru di tengah kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian.
Dalam sebuah forum bergengsi, Business Leaders Summit 2026 yang digelar di Istanbul, Turki, Arsjad menekankan bahwa negara-negara di kawasan Teluk memiliki cadangan modal yang sangat masif. Potensi dana kekayaan negara atau sovereign wealth funds yang dikelola negara-negara tersebut diperkirakan mencapai angka fantastis, yakni US$5,7 triliun atau setara dengan Rp103,06 triliun. Angka ini mencakup hampir 40 persen dari total aset dana kekayaan negara di seluruh dunia.
Namun, Arsjad memberikan catatan penting bahwa kehadiran modal besar tersebut tidak boleh hanya menjadi angka di atas kertas. Fokus utamanya adalah memastikan investasi tersebut masuk ke proyek-proyek yang memiliki nilai guna tinggi bagi masyarakat luas. "Modal bukanlah tujuan akhir. Hal yang paling krusial adalah bagaimana investasi tersebut mampu mendorong produktivitas, membuka lapangan pekerjaan, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan rakyat," tegas Arsjad.
Also Read
Selain dana kekayaan negara, sektor keuangan syariah global juga menunjukkan tren pertumbuhan yang sangat menjanjikan. Pada akhir 2024, aset industri keuangan syariah dunia menyentuh angka US$6 triliun atau sekitar Rp108,49 triliun, dan diproyeksikan akan melonjak hingga US$9,7 triliun pada tahun 2029 mendatang.
Meski potensi tersebut sangat menggiurkan, tantangan dalam merealisasikan investasi tetap ada. Data dari laporan OIC Economic Outlook 2026 menunjukkan adanya anomali; meski jumlah pengumuman proyek investasi baru di negara-negara OKI meningkat pesat, namun rata-rata nilai per proyeknya justru mengalami penurunan yang cukup signifikan.
Menanggapi hal tersebut, Arsjad merumuskan tiga pilar utama yang harus diperkuat untuk menarik minat investor, yang ia sebut sebagai konsep 3C: Certainty (kepastian regulasi), Capital (permodalan), dan Capability (kapasitas). Menurutnya, investor membutuhkan jaminan bahwa aturan main di sebuah negara akan tetap konsisten meskipun terjadi pergantian kepemimpinan politik. Selain itu, ketersediaan modal harus dibarengi dengan peningkatan kualitas tenaga kerja dan penguasaan teknologi agar proyek dapat berjalan optimal.
Sebagai langkah nyata, Sriwijaya Capital telah menjalin kemitraan strategis dengan BlueFive Capital yang berbasis di Abu Dhabi. Kolaborasi ini dirancang untuk mempererat koneksi bisnis antara kawasan Teluk dengan Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Salah satu implementasi konkretnya terlihat pada sektor energi terbarukan, di mana perusahaan portofolio Sriwijaya Capital, SESNA, tengah menjajaki proyek pembangkit listrik tenaga surya terapung di Batam bersama PT PLN (Persero).
Arsjad juga mencontohkan keberhasilan integrasi ekonomi di ASEAN, seperti kemudahan transaksi lintas negara melalui QRIS, sebagai model yang harus ditiru. Dengan konektivitas pasar yang kuat dan kolaborasi erat antara pemerintah serta sektor swasta, arus modal asing akan lebih mudah masuk untuk mendukung pembangunan infrastruktur dan ekonomi nasional.






