Beranda / Berita / Stok Amerika Melimpah Harga Minyak Terjun Bebas

Stok Amerika Melimpah Harga Minyak Terjun Bebas

Stok Amerika Melimpah Harga Minyak Terjun Bebas

Pasar minyak global kembali bergejolak. Harga komoditas energi ini terpantau melemah pada perdagangan Rabu (21/1/2026), setelah sempat menguat sehari sebelumnya. Penurunan ini didorong oleh pergeseran fokus investor dari isu gangguan pasokan di Kazakhstan ke potensi lonjakan persediaan minyak mentah di Amerika Serikat. Informasi ini dihimpun jabarpos.id dari berbagai sumber.

Melansir data Refinitiv pada pukul 10.20 WIB, harga minyak mentah Brent tercatat anjlok ke level US$64,20 per barel, merosot dari posisi penutupan sebelumnya di US$64,92. Senada, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga tak luput dari tekanan, diperdagangkan di US$59,80 per barel, lebih rendah dibandingkan penutupan Selasa yang berada di US$60,34 per barel.

Baca juga:  UMP 2026 Bikin Penasaran, Buruh Senang Pengusaha Ketar-Ketir?
Stok Amerika Melimpah Harga Minyak Terjun Bebas
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Koreksi harga ini terjadi setelah reli singkat pada sesi sebelumnya, yang dipicu oleh penghentian sementara produksi di dua ladang minyak utama Kazakhstan, Tengiz dan Korolev. Gangguan produksi akibat masalah distribusi listrik tersebut diperkirakan hanya berlangsung 7-10 hari. Namun, para analis menilai dampak dari isu Kazakhstan ini bersifat temporer, dan pasar kini lebih cermat menyoroti dinamika fundamental pasokan dan permintaan.

Tony Sycamore, seorang analis pasar dari IG, menggarisbawahi bahwa tekanan penurunan harga masih membayangi. Ia secara spesifik menyoroti perkiraan kenaikan stok minyak mentah AS sebagai faktor dominan yang menekan sentimen pasar saat ini.

Baca juga:  ENRG Tambah Amunisi, Siap Genjot Produksi Migas?

Sentimen bearish semakin kuat dengan antisipasi rilis data persediaan energi dari Amerika Serikat. Sebuah jajak pendapat awal yang dilakukan jabarpos.id memproyeksikan bahwa persediaan minyak mentah dan bensin AS kemungkinan besar akan meningkat pada pekan lalu. Rata-rata perkiraan analis menunjukkan kenaikan stok minyak mentah sekitar 1,7 juta barel hingga pekan yang berakhir pada 16 Januari, meskipun stok distilat diperkirakan menurun.

Baca juga:  Paskibraka Nasional 2024 Siap Kibarkan Sang Saka Merah Putih di IKN

Di ranah geopolitik, pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai ambisinya untuk mengakuisisi Greenland, serta ancaman tarif terhadap negara-negara Eropa jika kesepakatan dagang tak tercapai, turut menambah lapisan ketidakpastian. Langkah-langkah ini berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi global, yang pada gilirannya dapat memangkas permintaan energi.

Kendati demikian, ketegangan geopolitik belum sepenuhnya sirna dari radar pelaku pasar. Potensi eskalasi hubungan antara AS dan Iran masih menjadi faktor penahan yang mencegah penurunan harga lebih dalam, terutama jika tensi di Timur Tengah kembali memanas.