Jabarpos.id – Gejolak geopolitik global yang dipicu perang di Timur Tengah ternyata membawa dampak tak terduga bagi industri tekstil Indonesia. Di tengah ketidakpastian ini, PT Trisula International Tbk (TRIS) justru tancap gas melakukan ekspansi pasar ke Australia dan Afrika.
Direktur TRIS, Kevin Oen, mengungkapkan bahwa perang dan isu tarif dagang dengan Amerika Serikat menjadi perhatian utama industri tekstil. Namun, hal ini tidak menyurutkan langkah perusahaan untuk memperkuat produksi, termasuk penggunaan bahan baku berkelanjutan, dan memperluas jangkauan pasar.

"Efek dan tantangan dari gejolak ekonomi dan geopolitik global masih dapat diatasi oleh industri," ujar Kevin Oen dalam dialog di Nation Hub, CNBCIndonesia.
TRIS menargetkan pasar Australia sebagai fokus utama hingga tahun 2026, diikuti oleh Amerika Serikat, New Zealand, Jepang, dan Eropa. Selain itu, perusahaan juga bersiap untuk memasuki pasar baru di benua Afrika.
Di pasar domestik, anak usaha TRIS mencatatkan kinerja yang baik berkat fokus pada segmen pasar menengah ke atas. Strategi ini terbukti ampuh menjaga daya saing perusahaan di tengah gempuran produk impor.
Lantas, bagaimana dampak aturan tarif bea masuk 0% bagi produk tekstil RI ke pasar ekspor? Serta, bagaimana strategi TRIS menghadapi masuknya produk pakaian bekas dari Amerika Serikat? Simak selengkapnya dalam wawancara eksklusif bersama Kevin Oen di CNBCIndonesia.





