JABARPOS.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan sinyal perlawanan di akhir sesi pertama perdagangan hari ini, Senin (30/3/2026), setelah sempat terperosok dalam zona merah. Sempat menyentuh level 6.945,5, IHSG berhasil memangkas koreksi menjadi -0,44% dan kembali ke level 7.000-an pada pukul 11.10 WIB.
Meskipun mayoritas saham masih tertekan, dengan 478 saham berada di zona merah, terdapat 220 saham yang berhasil mencatatkan kenaikan. Nilai transaksi mencapai Rp 6,61 triliun dengan 11,92 miliar saham diperdagangkan dalam 881.200 kali transaksi.

Saham BBCA menjadi pemberat utama IHSG dengan koreksi nyaris 4%, namun sejumlah saham konglomerat tampil sebagai penopang. DCI Indonesia (DCII), Dian Swastatika Sentosa (DSSA), Telkom (TLKM), Bumi Resources Minerals (BRMS), dan Astra (ASII) menjadi motor penggerak yang menahan IHSG dari penurunan lebih dalam.
Kondisi bursa regional Asia-Pasifik mayoritas mengalami penurunan, dengan indeks Nikkei di Jepang dan Kospi di Korea Selatan mencatatkan penurunan signifikan. Ketidakpastian global, terutama terkait konflik di Timur Tengah dan dampaknya terhadap harga minyak, masih menjadi perhatian utama investor.
Analis menilai ruang kenaikan IHSG masih terbatas tanpa katalis positif yang kuat dari sisi global. Gencatan senjata di Timur Tengah, pembukaan kembali jalur energi utama, dan penurunan harga minyak menjadi faktor-faktor kunci yang dinantikan pasar.
Eskalasi konflik yang semakin kompleks dengan munculnya risiko double chokepoint semakin memperburuk sentimen. Gangguan pada Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb dapat berdampak signifikan terhadap pasokan minyak global dan memicu inflasi.
Kondisi ini menjadi tekanan tambahan bagi Indonesia, mengingat harga minyak yang tinggi dapat mengganggu stabilitas fiskal. Kebijakan The Fed dan tensi geopolitik yang meningkat juga turut memengaruhi dinamika pasar saham domestik.





