Beranda / Berita / Harga Minyak Meroket Dunia Terkejut

Harga Minyak Meroket Dunia Terkejut

Harga Minyak Meroket Dunia Terkejut

Jakarta – Pasar energi global kembali bergejolak hebat. Harga minyak dunia melonjak drastis pada perdagangan Senin (18/5/2026), mencapai level tertinggi dalam dua pekan terakhir. Kenaikan mengejutkan ini dipicu oleh memanasnya kembali ketegangan di Timur Tengah, khususnya terkait Iran, serta insiden serangan drone di fasilitas nuklir Barakah, Uni Emirat Arab (UEA). Situasi ini, seperti dilaporkan jabarpos.id, telah membuat pelaku pasar global menahan napas.

Berdasarkan data terbaru, minyak mentah Brent untuk kontrak Juli (LCOc1) diperdagangkan di angka US$111,24 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI/CLc1) menembus US$107,70 per barel. Angka ini menandai puncak harga yang tidak terlihat dalam dua minggu terakhir. Lonjakan ini bukan kejadian sesaat; sepanjang Mei, harga Brent telah meroket sekitar 11,2%, dari US$100,06 menjadi di atas US$111 per barel, sementara WTI menunjukkan kenaikan yang lebih dramatis, dari US$94,81 menjadi US$107,70 per barel.

Baca juga:  Rahasia Trader Forex Sukses Terungkap! Octa Broker Ungkap Strategi Ampuh
Harga Minyak Meroket Dunia Terkejut
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Pemicu utama gejolak ini adalah meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan minyak global. Laporan menyebutkan bahwa upaya diplomatik untuk meredakan konflik antara AS-Israel dan Iran belum membuahkan hasil. Pasar menjadi sangat sensitif setelah serangkaian insiden yang mengancam jalur energi vital di kawasan Teluk. Uni Emirat Arab mengonfirmasi adanya serangan drone yang menargetkan pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah. Hampir bersamaan, Arab Saudi berhasil mencegat tiga drone yang memasuki wilayah udaranya dari Irak. Peristiwa-peristiwa ini memaksa pasar untuk mengevaluasi ulang risiko terhadap infrastruktur energi krusial di jantung produsen minyak terbesar dunia.

Ketegangan geopolitik semacam ini memiliki implikasi serius bagi pasar minyak global. Kawasan Teluk Persia, dengan Selat Hormuz sebagai arteri utamanya, merupakan jalur distribusi energi yang tak tergantikan bagi dunia. Setiap eskalasi konflik di wilayah ini secara otomatis meningkatkan risiko gangguan pasokan, sebuah skenario yang selalu dihindari oleh para pelaku pasar.

Baca juga:  Serdik Sespimti Polri Dibekali Literasi Keamanan Siber, Siap Hadapi Ancaman Digital

Sebelumnya, kontrak Brent sempat menyentuh US$112 per barel di perdagangan Asia, level tertinggi sejak 5 Mei, sementara WTI menembus US$108,70 per barel, rekor sejak akhir April. Harapan akan meredanya situasi sempat muncul setelah pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping pekan lalu. Namun, pembicaraan tersebut gagal memberikan sinyal kuat mengenai resolusi konflik atau upaya konkret untuk meredakan ketegangan yang membara di Timur Tengah.

Jason Schenker, seorang analis dari Prestige Economics, memperingatkan bahwa konflik Iran yang berkepanjangan dapat meninggalkan "luka" permanen pada harga minyak dalam jangka panjang. Kondisi ini berpotensi mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama dari yang diharapkan, pada gilirannya menekan pertumbuhan ekonomi global secara signifikan.

Selain gejolak di Timur Tengah, pasar minyak juga mendapatkan sentimen tambahan dari kebijakan Washington terkait Rusia. Pemerintahan Trump memutuskan untuk tidak memperpanjang masa berlaku pengecualian sanksi terhadap minyak laut Rusia. Kebijakan sebelumnya memungkinkan beberapa negara, termasuk India, untuk terus membeli minyak dari Rusia. Dengan berakhirnya pengecualian ini, pasar kini dihadapkan pada dua tekanan besar secara simultan: risiko pasokan dari Timur Tengah yang tidak stabil dan potensi berkurangnya fleksibilitas dalam perdagangan minyak Rusia. Kombinasi faktor-faktor ini telah mendorong pelaku pasar untuk kembali berinvestasi pada aset energi, memicu kenaikan harga minyak yang cepat dalam beberapa sesi terakhir.

Baca juga:  Purbaya Incar PNM Jadi Jurus Ampuh Salurkan KUR, Danantara Jadi Penghalang?

Dengan demikian, pasar minyak global berada dalam kondisi yang sangat rentan, tertekan oleh ketidakpastian geopolitik di dua front sekaligus. Prospek harga minyak tetap tinggi tampaknya akan menjadi kenyataan selama ketegangan ini belum menemukan titik terang, memberikan tantangan serius bagi stabilitas ekonomi dunia.