Pasar modal Indonesia tengah menghadapi guncangan signifikan, tertekan oleh gejolak geopolitik global dan sentimen pasar yang kompleks. Menurut laporan jabarpos.id, nilai tukar Rupiah bahkan telah menembus level Rp 17.500 per Dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok hingga 6.700. Situasi ini memicu kekhawatiran serius di kalangan ekonom dan pelaku usaha.
Kondisi ini, menurut Analis Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Ajib Hamdani, menunjukkan bahwa kekuatan Rupiah terhadap Dolar AS berada dalam situasi yang sangat mengkhawatirkan. Dampak utama berasal dari sentimen eksternal, terutama peningkatan tensi geopolitik di Timur Tengah akibat konflik AS-Iran yang belum mereda, serta penundaan pemangkasan suku bunga oleh The Fed. Faktor-faktor global ini secara kolektif menciptakan tekanan berat pada mata uang domestik.

Di sisi internal, tekanan fiskal yang dialami Indonesia juga turut memperkeruh keadaan. Upaya pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di awal tahun melalui stimulus fiskal justru menimbulkan kekhawatiran baru. Para pelaku usaha kini mencemaskan kemampuan fiskal negara untuk menopang ekonomi hingga akhir tahun, sekaligus menjaga agar utang tetap terkendali.
Meski demikian, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyoroti capaian positif pertumbuhan ekonomi RI pada Kuartal I-2026 yang mencapai 5,61%. Namun, ia mempertanyakan sejauh mana pemerintah mampu mempertahankan momentum pertumbuhan ini di tengah berbagai tantangan. Yusuf memprediksi bahwa tantangan ekonomi ke depan akan semakin berat, terutama jika perang antara Iran dan AS berlanjut hingga akhir tahun. Skenario ini berpotensi menekan nilai tukar Rupiah lebih dalam dan meningkatkan tekanan pada anggaran negara.
Dalam menghadapi situasi pelik ini, harapan besar tertumpu pada langkah agresif pemerintah dan Bank Indonesia untuk menahan laju pelemahan Rupiah. Selain itu, upaya konkret untuk menarik kembali investor asing agar menanamkan modal di dalam negeri menjadi krusial untuk memperkuat fondasi ekonomi.
Analisis mendalam mengenai kondisi ekonomi ini terungkap dalam dialog Shafinaz Nachiar dengan Ajib Hamdani dan Yusuf Rendy Manilet di program Closing Bell, CNBC Indonesia, pada Rabu, 13 Mei 2026.




