Beranda / Berita / Optimisme BEI di Tengah IPO yang Sepi

Optimisme BEI di Tengah IPO yang Sepi

Optimisme BEI di Tengah IPO yang Sepi

Optimisme tinggi menyelimuti Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait target pencatatan saham perdana (Initial Public Offering/IPO) tahun 2026. Meskipun semester awal menunjukkan pergerakan yang belum signifikan, Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa target 50 emiten baru masih dalam jangkauan. Informasi ini dihimpun jabarpos.id.

Target ambisius BEI ini hampir dua kali lipat dari realisasi tahun sebelumnya yang mencatat 26 emiten baru. Namun, data hingga 30 April 2026 memang menunjukkan baru satu perusahaan yang berhasil melantai di BEI, dengan total dana dihimpun sebesar Rp 0,30 triliun. Kendati demikian, Jeffrey mengungkapkan bahwa saat ini ada 15 perusahaan lain yang tengah antre dalam daftar pipeline pencatatan saham, menunggu waktu yang tepat.

Baca juga:  Pemerintah Menimbang Rencana Dari Apple Untuk Investasi $100 juta, Guna Mencabut Larangan Penjualan iPhone
Optimisme BEI di Tengah IPO yang Sepi
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Jeffrey menjelaskan bahwa keputusan untuk melangsungkan IPO adalah langkah strategis yang sepenuhnya berada di tangan masing-masing perusahaan. Banyak faktor yang menjadi pertimbangan, termasuk dinamika pasar saat ini. "Tentu dalam kondisi pasar seperti ini, mungkin ada pertimbangan-pertimbangan tambahan apakah bisa mendapatkan pricing yang optimal, ya apakah nanti IPO-nya bisa terserap dengan baik oleh pasar atau tidak," ujar Jeffrey, mengutip pertimbangan calon emiten dan penjamin emisi.

Baca juga:  Delta Dunia Indonesia Akan Mengakuisisi Tambang Batu Bara Australia Seharga $455 juta

Meski demikian, Jeffrey optimistis bahwa proses rencana calon emiten tetap berjalan sesuai jadwal yang telah direncanakan. "Mudah-mudahan akan ada IPO-IPO baru," harapnya, menunjukkan keyakinan pada potensi pasar modal Indonesia.

Lebih lanjut, Jeffrey menekankan komitmen BEI untuk selalu mengedepankan kualitas di atas kuantitas dalam setiap proses IPO. Prinsip ini, menurutnya, sangat krusial untuk menjaga keberlangsungan dan stabilitas pasar modal Indonesia dalam jangka panjang. "Tentu kita kan sudah sama-sama sepakat bahwa kita akan mengutamakan kualitas daripada kuantitas ya. Saya kira kesepakatan itu masih berlaku dan masih sama seperti itu," pungkasnya.