Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat performa gemilang pada perdagangan sesi pertama hari ini, Senin (15/6/2026), dengan melesat signifikan hingga 5%. Kenaikan ini membawa IHSG bertengger di level 6.308,18, menambah 300,52 poin dari penutupan sebelumnya. Laporan yang dihimpun jabarpos.id menunjukkan bahwa lonjakan ini terjadi di tengah aktivitas transaksi yang sangat ramai di pasar.
Euforia pasar terlihat jelas dari dominasi saham-saham yang menguat. Sebanyak 691 emiten berhasil mencatatkan kenaikan harga, sementara hanya 83 saham yang tertekan, dan 185 lainnya stagnan. Nilai transaksi harian mencapai angka fantastis Rp 15,95 triliun, melibatkan 27,43 miliar saham yang berpindah tangan dalam 1,78 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun ikut terdongkrak, menembus angka Rp 11.019 triliun.
Namun, di balik kegemilangan hari ini, pergerakan pasar keuangan Indonesia dan global diperkirakan masih akan diselimuti bayang-bayang ketidakpastian. Konflik di Timur Tengah yang memanas beberapa waktu terakhir telah memicu lonjakan harga minyak dunia dan volatilitas pasar yang tinggi. Para investor kini menanti serangkaian data ekonomi krusial yang diharapkan dapat memberikan petunjuk arah pertumbuhan ekonomi global, prospek suku bunga, hingga stabilitas nilai tukar mata uang.
Also Read
Fokus utama pasar akan tertuju pada hasil rapat kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) dan The Federal Reserve (The Fed), data konsumsi Amerika Serikat, serta indikator ekonomi dari China yang kerap menjadi barometer permintaan komoditas global. Bagi perekonomian Indonesia, kombinasi data-data tersebut akan sangat berpengaruh terhadap fluktuasi rupiah, performa IHSG, pasar obligasi, dan prospek sektor komoditas unggulan seperti batu bara, nikel, serta minyak sawit mentah (CPO).
Sinyal positif yang menjadi pemicu utama lonjakan pasar hari ini datang dari kabar kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Presiden AS Donald Trump secara resmi mengumumkan bahwa kedua negara telah mencapai perjanjian untuk membuka kembali Selat Hormuz, sebuah jalur pelayaran vital. Pengumuman ini sontak disambut gembira oleh pasar, yang langsung merespons dengan penurunan tajam harga minyak dunia.
Respons antusias juga terlihat di bursa saham kawasan Asia. Indeks Kospi Korea Selatan memimpin penguatan dengan melesat 5,1%. Di Jepang, indeks Nikkei 225 naik 3,6% dan indeks Topix menguat 2,6%. Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 di Australia juga turut mencatatkan kenaikan sebesar 1,3%, menunjukkan optimisme pasar global terhadap meredanya ketegangan geopolitik.






