Telkom Gelontorkan Dana Triliunan Rupiah Targetkan Hal Ini

Author Image

Endang Wulansari

22 Juni 2026, 21:04 WIB

Raksasa telekomunikasi nasional, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom), siap mengucurkan investasi besar-besaran. Dana belanja modal atau Capex senilai fantastis Rp27 triliun hingga Rp28 triliun telah disiapkan untuk mengakselerasi berbagai proyek strategis. Informasi ini diungkapkan oleh Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, dalam gelaran Economic Update 2026 CNBC Indonesia pada Senin (22/6/2026), sebagaimana dilaporkan jabarpos.id.

Dian Siswarini menjelaskan, alokasi dana jumbo ini akan diambil dari sekitar 17% hingga 19% total pendapatan perusahaan. Ia menekankan peran vital Telkomsel sebagai tulang punggung pendapatan, menyumbang hingga 70% dari total revenue Telkom.

Telkom Gelontorkan Dana Triliunan Rupiah Targetkan Hal Ini
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Prioritas utama investasi ini mencakup pengembangan jaringan internet 5G yang mutakhir, pembangunan infrastruktur Fiber to the Home (FTTH) untuk layanan Indihome, serta penguatan backbone serat optik Telkom. Tujuannya jelas, seperti disampaikan Dian, adalah untuk memastikan jangkauan jaringan fiber optik yang merata hingga ke seluruh pulau dan kota di Indonesia.

Tak kalah penting, sebagian besar belanja modal juga diarahkan untuk pengembangan pusat data (data center). Infrastruktur ini menjadi krusial di tengah pesatnya kemajuan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI). "Kondisi data center saat ini sedang booming karena perkembangan AI yang luar biasa besar, sehingga kebutuhan akan investasi di sektor ini juga sangat tinggi," terang Dian.

Sebagai informasi tambahan, kinerja keuangan Telkom pada tiga bulan pertama tahun 2026 menunjukkan tren positif. Perseroan membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp37,2 triliun, mencatat pertumbuhan 1,5% secara year-on-year. Sementara itu, EBITDA tercatat solid di angka Rp18,0 triliun, dengan margin EBITDA mencapai 48,3%.

Laba bersih Telkom pada periode tersebut mencapai Rp4,3 triliun dengan margin 11,7%. Adapun laba bersih yang dinormalisasi sedikit lebih tinggi, yakni Rp5,1 triliun dengan margin 13,8%. Kontraksi pada laba bersih ini, menurut manajemen, lebih banyak dipengaruhi oleh dampak lanjutan dari percepatan depresiasi aset dan proses normalisasi bisnis selama fase transformasi. Namun, tekanan ini bersifat transisional dan non-kas, menandakan kinerja operasional fundamental perusahaan tetap terjaga.

Di sisi lain, arus kas operasional perseroan menunjukkan pertumbuhan yang sehat, naik 3,1% year-on-year menjadi Rp17,3 triliun. Peningkatan ini didorong oleh implementasi program efisiensi TOTEX yang ketat serta disiplin penagihan yang semakin membaik, menunjukkan pengelolaan keuangan yang cermat.

Related Post