Terungkap Jurus Jitu Himbara Tarik Modal Global

Author Image

Endang Wulansari

9 Juli 2026, 18:04 WIB

Jakarta – Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menyatakan kesiapannya untuk menjadi garda terdepan dalam menyambut gelombang investasi global melalui ekosistem Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII). Inisiatif ini digadang-gadang sebagai gerbang utama aliran modal dari berbagai penjuru dunia ke Tanah Air. Pernyataan ini disampaikan oleh Direktur Kelembagaan BNI, Eko Setyo Nugroho, yang mewakili Himbara, dalam sebuah Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Panja RUU Pusat Finansial Internasional Indonesia di Komisi XI DPR RI, Kamis (9/7/2026). Menurut laporan jabarpos.id, Eko menegaskan bahwa kehadiran PFII akan menjadi katalisator penting bagi daya saing sektor keuangan nasional sekaligus meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi.

Eko menjelaskan, dengan terbangunnya ekosistem PFII yang kompetitif, Himbara akan berperan krusial sebagai pintu masuk bagi beragam jenis investor global. Selama ini, sebagian besar arus modal tersebut masih cenderung mengalir melalui pusat-pusat keuangan internasional di luar negeri. "Dengan PFII, Himbara dapat berperan sebagai gateway bagi masuknya modal global, mulai dari investasi langsung asing (FDI), investor institusi, dana kekayaan negara (sovereign wealth fund), family office, hingga pasar modal," ujar Eko. Lebih dari sekadar penghubung, Himbara juga siap menyediakan solusi keuangan terintegrasi, membangun kemitraan strategis, dan mendukung kebutuhan pembiayaan sepanjang siklus investasi. Modal yang berhasil dihimpun nantinya akan dialokasikan ke berbagai sektor prioritas nasional, mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Terungkap Jurus Jitu Himbara Tarik Modal Global
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Namun, Eko menekankan bahwa keberhasilan PFII tidak bisa hanya bergantung pada insentif atau potensi bisnis semata. Fondasi regulasi yang kuat, tata kelola yang transparan, dan kepastian hukum menjadi pilar utama untuk menarik serta mempertahankan kepercayaan investor. Selain itu, implementasi PFII harus dilakukan secara bertahap, dengan memperhatikan kesiapan infrastruktur, kapasitas industri, dan strategi mitigasi risiko yang matang agar manfaatnya optimal. "Dengan pendekatan komprehensif ini, Indonesia diharapkan dapat memperkuat posisinya sebagai pusat aktivitas keuangan yang berdaya saing, baik di tingkat regional maupun global," papar Eko.

Sebagai bagian dari persiapan dan masukan dalam penyusunan PFII, Himbara telah melakukan studi banding terhadap sejumlah pusat keuangan internasional terkemuka. Studi tersebut mencakup Abu Dhabi Global Market, Dubai International Financial Centre, International Financial Centre di Hong Kong, dan Singapore International Financial Centre. Dari hasil studi banding, Himbara menyimpulkan bahwa setiap pusat keuangan internasional (IFC) yang sukses memiliki posisi dan target ekonomi yang jelas. Contohnya, Abu Dhabi dan Dubai dikembangkan sebagai IFC berbasis zona khusus, sementara Hong Kong dan Singapura beroperasi sebagai pusat keuangan yang mencakup seluruh wilayah kota atau negara. "Ini menunjukkan bahwa kejelasan arah, identifikasi pelaku target, pengembangan produk keuangan spesifik, dan peran yang ingin dimainkan di kawasan menjadi penentu utama keberhasilan sebuah IFC," terang Eko.

Related Post