Jakarta – Sebuah pertemuan penting yang melibatkan para pemangku kepentingan utama di sektor keuangan Indonesia berlangsung di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (15/7/2026). Hadir dalam forum bertajuk Investment Forum 2026 tersebut adalah perwakilan dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta para investor. Momen ini bertepatan dengan pergerakan pasar saham yang menunjukkan performa positif, bertahan di zona hijau sepanjang hari. Menurut laporan jabarpos.id, optimisme pasar ini ditopang oleh berbagai pandangan strategis yang disampaikan para pejabat tinggi.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa pasar modal Tanah Air kini berlandaskan kekuatan yang solid. Kekuatan utama berasal dari porsi investor domestik yang terus bertumbuh signifikan, kini mencapai 30 juta individu. Angka ini, menurut Friderica, meminimalisir ketergantungan pada fluktuasi investasi asing, menjadikan pasar lebih resilient terhadap gejolak eksternal.
Dari sisi legislatif, Wakil Ketua DPR RI, Sari Yuliati, menyoroti peran krusial Undang-undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK). Ia menyebut UU ini diciptakan sebagai instrumen strategis oleh legislatif dan eksekutif untuk mendorong hilirisasi sektor keuangan Indonesia. "P2SK menjadi jembatan integrasi antara kekayaan sumber daya alam kita dengan inovasi sektor keuangan," jelas Sari, menggambarkan visi besar di balik regulasi tersebut.
Also Read
Senada dengan itu, Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, memberikan analisis menarik mengenai pelemahan pasar saham. Misbakhun berpendapat bahwa penurunan harga saham lebih banyak dipicu oleh sentimen dan persepsi pasar, bukan oleh fundamental emiten yang melemah atau kondisi ekonomi domestik yang memburuk. Ia mencontohkan bagaimana isu suku bunga di Amerika Serikat seringkali memicu berbagai persepsi di kalangan investor, yang kemudian berdampak pada pergerakan pasar.
Sementara itu, Bank Indonesia melalui Deputi Senior Destry Damayanti, menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII). Destry menilai keberadaan PFII sebagai magnet penarik arus investasi ke Indonesia, sekaligus berpotensi memperkokoh ketahanan eksternal negara, khususnya melalui stabilitas neraca pembayaran.
Menanggapi potensi penyesuaian jumlah saham Indonesia dalam konstituen indeks MSCI, Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, melihat hal tersebut sebagai sebuah konsekuensi logis dalam perspektif jangka pendek. Namun, Jeffrey menegaskan optimisme untuk prospek jangka panjang yang jauh lebih cerah bagi pasar modal Indonesia. Pergerakan saham di zona hijau pada hari itu, yang didominasi oleh penguatan saham-saham perbankan, menjadi indikator awal dari sentimen positif yang diharapkan terus berlanjut.






