Airlangga Bongkar Rahasia Pasar Modal Indonesia

Author Image

Endang Wulansari

10 Agustus 2026, 12:04 WIB

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto baru-baru ini menyoroti sejarah panjang pasar modal Indonesia dalam acara peringatan Hari Ulang Tahun ke-49 Pasar Modal Indonesia dan Peluncuran Produk ETF Emas. Dalam pidatonya, seperti dilansir jabarpos.id, Airlangga secara khusus menyinggung peran historis Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang ia sebut sebagai perusahaan publik pertama di dunia.

Airlangga menekankan bahwa momentum peringatan ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat kepercayaan investor, baik di tingkat nasional maupun internasional, terhadap stabilitas ekonomi dan pasar keuangan. Menurutnya, pasar modal selalu menjadi indikator utama kesehatan ekonomi yang diamati cermat oleh para investor, terutama di tengah situasi strategis global.

Airlangga Bongkar Rahasia Pasar Modal Indonesia
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Mengulas kembali jejak sejarah, Airlangga menjelaskan bahwa cikal bakal bursa efek di Indonesia berawal dari era kolonial Belanda, sebelum kemudian diaktifkan kembali pada tahun 1977 di masa pemerintahan Presiden Soeharto. "Jika kita menilik sejarah, VOC adalah perusahaan publik pertama yang tercatat di dunia," ungkap Airlangga, mengutip pernyataan yang menarik perhatian hadirin.

VOC memang dikenal sebagai pelopor dalam memperkenalkan konsep saham sebagai instrumen investasi. Perusahaan dagang raksasa itu tercatat sebagai entitas pertama yang menerbitkan saham kepada khalayak umum, membuka peluang bagi masyarakat untuk memiliki sebagian kepemilikan perusahaan. Investor yang membeli saham tersebut berhak atas pembagian keuntungan dalam bentuk dividen.

Kala itu, ruang lingkup bisnis VOC sangat luas, mencakup perdagangan komoditas dari berbagai wilayah di Asia serta aktivitas pelayaran global. Yang lebih mencengangkan, Airlangga menyebutkan bahwa kapitalisasi pasar VOC, jika dinilai dengan standar hari ini, diperkirakan mencapai angka fantastis US$ 7 hingga US$ 8 triliun.

"Jika kita mengukur kapitalisasi pasarnya dengan nilai saat ini, angkanya mencapai US$ 7-8 triliun. Ini menunjukkan bahwa bahkan dengan valuasi zaman sekarang pun, nilai VOC sangatlah tinggi," tegas Airlangga, menggambarkan betapa dominannya perusahaan tersebut di masanya.

Keberhasilan dan dominasi VOC, lanjut Airlangga, tidak lepas dari sokongan melimpah komoditas-komoditas unggulan dari bumi Nusantara selama hampir tiga abad. Kontribusi ini terbukti krusial, mengingat Belanda pada periode abad ke-16 hingga ke-19 mencatatkan diri sebagai negara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita tertinggi di dunia.

"Memang tercatat bahwa dari abad ke-16 hingga ke-19, Belanda memiliki PDB per kapita tertinggi di dunia, sebuah fakta yang tak bisa dilepaskan dari peran VOC dan kekayaan sumber daya yang mereka kelola," pungkasnya.

Related Post