Konflik antara Rusia dan Ukraina kembali memanas, ditandai dengan intensitas serangan udara yang kian meningkat dari kedua belah pihak. Situasi ini semakin mengaburkan harapan akan berakhirnya perang, dengan target-target strategis kini menjadi sasaran utama. Menurut laporan jabarpos.id, eskalasi terbaru ini mencakup serangan terhadap infrastruktur industri vital hingga fasilitas militer.
Pada Minggu pagi, Rusia melancarkan serangan terhadap pabrik baja terbesar Ukraina yang berlokasi di Kryvyi Rih, kota asal Presiden Volodymyr Zelensky. Serangan ini dilaporkan menyebabkan sedikitnya dua orang tewas dan 14 lainnya luka-luka. Pengelola pabrik ArcelorMittal Kryvyi Rih mengonfirmasi melalui Telegram bahwa fasilitas produksi utama, termasuk sektor pembangkit listrik dan tanur tinggi, mengalami kerusakan parah, mengakibatkan penghentian sebagian proses produksi. Selain itu, serangan drone Rusia juga memicu kebakaran di setidaknya dua distrik di ibu kota Kyiv, melukai tiga orang, termasuk seorang anak.
Tidak tinggal diam, militer Ukraina membalas dengan menyerang fasilitas produksi bahan bakar rudal di wilayah Rostov, Rusia, pada Minggu dini hari. Fasilitas ini, menurut militer Ukraina, memproduksi propelan roket padat untuk sistem peluncur roket multipel serta berbagai sistem rudal dan persenjataan udara. Peningkatan aksi saling serang juga terlihat di wilayah Rusia lainnya. Gubernur Moskow Andrei Vorobyov melaporkan seorang pria berusia 83 tahun tewas dalam salah satu serangan drone terbesar di wilayahnya. Gudang Wildberries, peritel online terbesar Rusia, di Koledino, sekitar 45 kilometer selatan Moskow, juga menjadi sasaran, dengan rekaman Reuters menunjukkan kepulan asap besar. Ukraina menuduh Wildberries menangani barang-barang militer, menjadikannya target dalam upaya merusak infrastruktur ekonomi Rusia. Serangan drone lain di dekat kota Belgorod, Rusia selatan, menewaskan satu orang di dalam sebuah bus.
Also Read
Eskalasi konflik ini bahkan meluas hingga ke wilayah perbatasan. Rumania, negara anggota NATO yang berbatasan dengan Ukraina, menjadi saksi ketika sebuah drone ditembak jatuh oleh jet tempur F-18 NATO. Meskipun asal drone tidak disebutkan secara langsung, juru bicara NATO menduga drone tersebut berasal dari Rusia. Insiden ini terjadi tak lama setelah Rusia menyerang pelabuhan ekspor gandum terbesar Ukraina di Sungai Danube, dekat perbatasan Rumania. Serangan ini menambah daftar panjang target strategis yang disasar kedua negara, termasuk kilang minyak dan kapal-kapal komersial di Laut Hitam. Kementerian Pertahanan Rumania menyatakan serpihan drone jatuh di wilayah tak berpenghuni.
Rangkaian serangan intensif ini menegaskan bahwa konflik Rusia-Ukraina jauh dari kata usai. Kedua belah pihak semakin berani menyasar jantung ekonomi dan militer lawan, meningkatkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur. Dunia menyaksikan dengan cemas bagaimana perang ini terus berkobar, tanpa tanda-tanda mereda, dan kini melibatkan insiden di wilayah udara NATO.






