Sebuah kisah penipuan berskala raksasa yang mengguncang dunia pertambangan dan politik Indonesia pada era 1990-an kembali mencuat. Berawal dari klaim penemuan "gunung emas" fantastis di Kalimantan Timur, skandal ini tak hanya menyeret nama-nama besar, tetapi juga menyisakan misteri hilangnya sang dalang utama. Menurut catatan jabarpos.id, kasus ini menjadi salah satu penipuan terbesar dalam sejarah pertambangan, di mana mayat pelaku utamanya bahkan diduga palsu.
Pada tahun 1993, dunia digegerkan oleh laporan mengejutkan dari Bre-X, sebuah perusahaan tambang asal Kanada. Mereka mengklaim telah menemukan cadangan emas luar biasa besar, diperkirakan mencapai 53 juta ton, di wilayah Busang, Kalimantan Timur. Klaim fantastis ini sontak menarik perhatian industri tambang global, menjanjikan kekayaan tak terhingga bagi para investor.
Laporan investigasi Tempo pada 1998 mengungkap bahwa Bre-X, yang awalnya hanyalah perusahaan kecil, berhasil menciptakan ilusi ini. Ahli geologi mereka, John Felderhof, bersama tim, menghabiskan 12 hari menelusuri hutan Kalimantan pada 1993. Setelah "memastikan" potensi kawasan, perusahaan itu membuat surat terbuka kepada para investor, menjelaskan prospek masa depan Busang yang menjanjikan kekayaan melimpah.
Also Read
Kabar "gunung emas" ini menyebar cepat. Di Kanada, saham Bre-X langsung meroket, mengubah nilai perusahaan dari yang semula tidak signifikan menjadi sekitar Rp7 triliun. Di Indonesia, para petinggi dan pengusaha, termasuk Bob Hasan dan Sigit Harjojudanto (putra Presiden Soeharto), segera terpikat. Mereka berlomba-lomba menguasai area penambangan. Bob Hasan mengakuisisi 50% saham di PT Askatindo Karya Mineral dan PT Amsya Lina yang menguasai Busang I dan Busang II. Bahkan, Sigit dibujuk dengan tawaran US$1 juta per bulan agar perusahaannya, PT Panutan Daya, menjadi konsultan di Busang.
Namun, bisnis di Indonesia tak semudah itu bagi perusahaan asing. Presiden Soeharto mengharuskan Bre-X berbagi saham dan bekerja sama dengan pemerintah. Untuk itu, PT Freeport-McMoran, perusahaan tambang terkemuka, ditunjuk sebagai representasi pemerintah. Dari sinilah, tabir kebohongan mulai tersingkap perlahan.
Sebagai perusahaan profesional, Freeport menjalankan prosedur verifikasi ketat. Tim mereka dikirim ke Busang untuk mengambil sampel batuan dan mengujinya di laboratorium, guna memastikan kandungan emas yang sebenarnya. Ini adalah langkah krusial yang akan membongkar kebenaran di balik klaim Bre-X.
Pada 19 Maret 1997, di hari yang sama saat tim Freeport melakukan verifikasi, kabar mengejutkan datang: Michael de Guzman, Direktur Eksplorasi Bre-X dan salah satu otak di balik klaim emas Busang, dilaporkan tewas bunuh diri dengan melompat dari helikopter dalam perjalanan Samarinda-Busang. Sebuah surat wasiat juga ditemukan, dan mayat yang diyakini Guzman kemudian dibawa ke Filipina untuk dimakamkan.
Namun, naluri jurnalis investigasi Bondan Winarno meragukan keaslian mayat tersebut. Penelusurannya hingga ke Kanada mengungkapkan perbedaan ciri fisik antara mayat dan Guzman, menguatkan dugaan bahwa Guzman masih hidup dan sengaja disembunyikan.
Kecurigaan Bondan terbukti benar. Pada saat yang hampir bersamaan, Freeport merilis hasil verifikasinya: tanah Busang sama sekali tidak mengandung emas. Laporan dari berbagai peneliti independen juga mengkonfirmasi hal serupa; tidak ada emas di batuan Busang dari tahun 1995-1997.
Pengungkapan ini menggemparkan Indonesia, bahkan berhasil menipu Presiden Soeharto. Saham Bre-X langsung anjlok drastis, memicu kemarahan para investor yang menuntut uang mereka kembali, bahkan sampai menyandera bos Bre-X, David Walsh.
Meskipun kasus ini perlahan mereda, misteri hilangnya Michael de Guzman tetap menjadi tanda tanya besar. Menurut laporan BBC International, Guzman tidak pernah terlihat lagi sejak kejadian itu. Keluarganya, yang meyakini ia masih hidup, menduga ia mengasingkan diri di Amerika Selatan. Kisah "gunung emas" Busang ini menjadi pengingat abadi akan bahaya keserakahan dan betapa mudahnya ilusi dapat menipu banyak pihak.






