Mata Uang Garuda Goyang Dolar AS Melambung Tinggi

Author Image

Endang Wulansari

15 September 2026, 15:31 WIB

Nilai tukar rupiah kembali tertekan secara signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), melanjutkan tren pelemahan yang mengkhawatirkan. Menurut laporan jabarpos.id, pada penutupan perdagangan Selasa (15/9/2026), mata uang Garuda ditutup di posisi Rp17.685/US$, mencatat pelemahan selama empat hari beruntun.

Sepanjang perdagangan hari itu, pergerakan rupiah konsisten berada di zona merah. Setelah dibuka melemah tipis di Rp17.650/US$, tekanan terus bertambah hingga sempat menyentuh level terendah harian di Rp17.703/US$. Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), yang menjadi barometer kekuatan greenback secara global, terpantau menguat 0,22% ke posisi 99,606 pada pukul 15.00 WIB.

Mata Uang Garuda Goyang Dolar AS Melambung Tinggi
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Di tengah gempuran tekanan eksternal, kabar dari dalam negeri sebenarnya sempat memberikan sedikit angin segar. Pelantikan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan pada Senin (14/9/2026), menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa, disambut positif oleh pasar. Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Irman Faiz, menilai pengalaman panjang Suahasil di Kementerian Keuangan akan menjadi modal penting untuk menjaga kredibilitas pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menurut Irman, rekam jejak Suahasil sebagai teknokrat mampu meminimalkan risiko selama masa transisi serta menjaga kesinambungan kebijakan fiskal. "Secara keseluruhan, kami memperkirakan kebijakan fiskal akan tetap mendukung pertumbuhan sembari mempertahankan aturan fiskal 3% sebagai jangkar kredibilitas utama," ujar Irman. Namun, optimisme domestik ini belum cukup kuat untuk membendung arus tekanan eksternal yang begitu besar.

Penguatan dolar AS di pasar global menjadi pemicu utama pelemahan rupiah. Permintaan terhadap aset aman melonjak tajam seiring berlanjutnya konflik di Timur Tengah. Serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi dan kapal-kapal di Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran serius mengenai pasokan energi dunia. Kondisi ini mendorong harga minyak mentah global acuan Brent konsisten berada di atas US$100 per barel.

Kenaikan harga energi ini juga semakin memperkuat keyakinan pelaku pasar bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga pada pekan ini. Berdasarkan perangkat CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan pekan ini mencapai sekitar 93%, melonjak drastis dari sekitar 60% pada pekan lalu. Ekspektasi kenaikan suku bunga ini membuat aset berdenominasi dolar AS menjadi semakin menarik, memperkuat greenback, dan secara langsung menambah tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Related Post