Terungkap Alasan Tuyul Tak Pernah Curi Uang di Bank

Author Image

Endang Wulansari

19 September 2026, 12:04 WIB

Kisah tentang tuyul, makhluk gaib yang dipercaya mampu mencuri uang, telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari folklor masyarakat Indonesia. Namun, satu pertanyaan besar selalu mengemuka dan tak pernah terjawab secara memuaskan: mengapa tuyul tak pernah menyentuh uang di bank? Sebuah investigasi mendalam dari jabarpos.id kini mengungkap fakta mengejutkan di balik mitos ini, jauh dari sekadar cerita hantu atau takhayul belaka.

Dalam benak masyarakat, tuyul digambarkan sebagai sosok anak kecil botak yang dipelihara oleh individu serakah untuk memperkaya diri. Budayawan Suwardi Endraswara dalam bukunya "Dunia Hantu Orang Jawa" (2004) menuliskan bahwa aktivitas tuyul meliputi pencurian uang, barang, hingga surat-surat berharga, yang biasanya dilakukan dari rumah ke rumah. Namun, hingga kini, belum pernah ada laporan resmi mengenai bank yang kehilangan uang akibat ulah makhluk halus bertubuh mungil tersebut.

Terungkap Alasan Tuyul Tak Pernah Curi Uang di Bank
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Berbagai spekulasi beredar di ranah daring untuk menjawab misteri ini. Ada yang menyebut tuyul takut terhadap logam brankas tempat uang disimpan, sementara yang lain berpendapat bahwa bank dijaga oleh "makhluk halus" lain yang ditakuti tuyul. Namun, semua dugaan tersebut hanyalah spekulasi tak berdasar dari sebuah fenomena yang, pada dasarnya, tidak logis. Sebenarnya, ada penjelasan ilmiah dan historis yang kuat di balik cerita mistis tuyul, yang justru menyingkap asal-usul mitos itu sendiri, sekaligus menjawab mengapa bank tetap aman dari "pencurian" mereka.

Untuk memahami akar masalahnya, kita perlu menengok kembali ke tahun 1870. Kala itu, pemerintah kolonial Belanda meresmikan Kebijakan Pintu Terbuka atau liberalisasi ekonomi, menggantikan sistem tanam paksa yang kejam. Sekilas, perubahan ini tampak membawa angin segar dan harapan kesejahteraan. Namun, kenyataannya justru sebaliknya.

Menurut Jan Luiten van Zanden dan Daan Marks dalam "Ekonomi Indonesia 1800-2010" (2012), liberalisasi ekonomi justru melahirkan rezim kolonial baru yang ditandai dengan pengambilalihan perkebunan rakyat untuk diubah menjadi perkebunan besar dan pabrik gula. Situasi ini membuat kehidupan masyarakat terpuruk, khususnya para petani kecil di Jawa yang semakin terperosok ke dalam jurang kemiskinan karena kehilangan kuasa atas lahan mereka.

Di sisi lain, kebijakan ini melahirkan "orang kaya baru" dari kalangan pedagang, baik pribumi maupun Tionghoa, yang dalam sekejap mengalami lonjakan kekayaan. Kenaikan pesat harta mereka menimbulkan keheranan dan kecemburuan di kalangan petani yang kian melarat. Para petani, yang hidup subsisten dan terbiasa dengan proses akumulasi kekayaan yang transparan dan hasil kerja keras, merasa bingung dari mana asal-usul kekayaan mendadak para pedagang ini.

Ketika orang-orang kaya baru ini tidak dapat menjelaskan asal-usul kekayaan mereka secara gamblang, tuduhan pun mulai muncul. George Quinn dalam "An Excursion to Java’s Get Rich Quick Tree" (2009) mencatat bahwa masyarakat petani selalu beranggapan datangnya kekayaan harus dapat dipertanggungjawabkan. Kegagalan para pedagang untuk mempertanggungjawabkan kekayaan mereka, ditambah dengan pandangan mistis yang kental di masyarakat, memunculkan tuduhan kerja sama dengan makhluk supranatural, salah satunya tuyul.

Ong Hok Ham dalam bukunya "Dari Soal Priayi sampai Nyi Blorong" (2002) menjelaskan bahwa tuduhan ini membuat para pedagang dan pengusaha sukses kehilangan status di masyarakat. Mereka dianggap "hina" karena memupuk kekayaan dari cara haram, yakni bersekutu dengan setan. Padahal, semua ini terjadi akibat perubahan kebijakan kolonial Belanda yang secara tidak langsung membuat pengusaha tertimpa durian runtuh. Akibatnya, orang kaya cenderung menyembunyikan kekayaan mereka atau membeli barang yang tidak terlalu mencolok, agar tidak dituduh memelihara tuyul.

Jadi, alasan tuyul tak mencuri uang di bank bukanlah karena takut brankas, penjaga gaib, atau sistem keamanan modern. Melainkan, karena tuyul itu sendiri adalah sebuah konstruksi sosial yang lahir dari kecemburuan, ketidakpahaman, dan pandangan mistis masyarakat agraris terhadap perubahan ekonomi kolonial yang menciptakan kesenjangan. Mitos tuyul menjadi alat untuk menjelaskan kekayaan yang dianggap tak wajar, bukan entitas yang benar-benar beroperasi di dunia nyata, apalagi di sistem perbankan yang terstruktur. Popularitas tuyul sebagai subjek mistis dalam hal kekayaan terus bertahan hingga kini, melanggengkan imajinasi dan tuduhan yang berakar pada sejarah sosial ekonomi.

Related Post