Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengakhiri perdagangan Kamis (17/9/2026) dengan penguatan signifikan, menembus tekanan sentimen global yang dipicu oleh kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed). Menurut laporan jabarpos.id, IHSG ditutup menguat 0,40% atau naik 25,58 poin ke level 6.462,43.
Pergerakan IHSG sepanjang hari itu cukup dinamis, sempat menyentuh level terendah 6.418 sebelum mencapai puncak 6.500. Data perdagangan menunjukkan dominasi saham-saham yang menguat, dengan 384 emiten berhasil mencatatkan kenaikan, berbanding 244 yang melemah, dan 164 lainnya stagnan. Aktivitas transaksi juga cukup ramai, mencapai Rp 13,92 triliun dengan volume perdagangan 28,52 miliar saham dan frekuensi 1,86 juta kali.
Kinerja positif IHSG banyak ditopang oleh sektor-sektor kunci seperti konsumer, energi, dan teknologi yang memimpin penguatan. Sementara itu, sektor kesehatan, properti, utilitas, dan barang baku harus rela ditutup di zona merah. Beberapa emiten besar yang menjadi motor penggerak kenaikan indeks antara lain BMRI, DSSA, DCII, BYAN, dan VKTR.
Also Read
Kenaikan ini menjadi angin segar setelah sehari sebelumnya, Rabu (16/9/2026), IHSG ditutup melemah 0,38%. Bahkan, pada awal perdagangan hari ini, indeks sempat melesat lebih dari 1% sebelum kemudian tergelincir ke zona merah, namun berhasil bangkit kembali menjelang penutupan.
Namun, di balik penguatan tersebut, pasar keuangan global dan domestik sebenarnya tengah dilingkupi sentimen negatif yang cukup kuat. Keputusan The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, menjadi 3,75%-4%, adalah pemicu utamanya. Ini merupakan kenaikan pertama sejak Juli 2023, dan sinyal dari 16 dari 18 pejabat The Fed mengindikasikan kemungkinan kenaikan lanjutan hingga akhir tahun, mencerminkan kekhawatiran serius terhadap inflasi yang persisten di AS.
Dampak langsung dari kebijakan moneter agresif The Fed terlihat dari melonjaknya indeks dolar AS ke level 100,252, rekor tertinggi sejak 12 Agustus 2026. Bersamaan dengan itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun juga meroket hingga 5,004%, level yang tak terlihat sejak Juli 2007. Situasi ini berpotensi besar menekan nilai tukar rupiah dan mendorong arus modal keluar dari Indonesia menuju aset-aset berdenominasi dolar AS yang kini lebih menarik, termasuk obligasi AS.
Di samping itu, gejolak geopolitik di Timur Tengah turut memperkeruh suasana. Laporan mengenai keberhasilan kelompok Houthi menguasai beberapa wilayah strategis di sekitar Selat Bab el-Mandeb, yang merupakan jalur vital perdagangan minyak global, memicu kekhawatiran. Bersama Selat Hormuz, selat ini adalah urat nadi distribusi energi dunia. Eskalasi konflik ini berisiko mengganggu pasokan minyak, memicu kenaikan harga energi, dan pada akhirnya memperparah inflasi global serta membebani negara-negara importir minyak seperti Indonesia.
Tekanan terhadap The Fed juga datang dari ranah politik domestik AS. Presiden Donald Trump secara terbuka mendesak bank sentral untuk memangkas suku bunga secara agresif hingga 1% atau bahkan lebih rendah. Perbedaan pandangan yang mencolok ini menambah ketidakpastian pasar mengenai arah kebijakan moneter AS dan independensi The Fed.
Di tengah dinamika global ini, pelaku pasar di Indonesia juga akan mencermati perkembangan domestik, seperti implementasi pemungutan PPh bagi pedagang online via marketplace mulai 1 Oktober 2026, serta tindakan tegas OJK terhadap emiten yang melanggar aturan pasar modal. Sementara itu, kalender ekonomi global menanti rilis klaim pengangguran AS, data inflasi final Zona Euro Agustus 2026, dan keputusan suku bunga Bank of England (BoE). Semua data ini akan menjadi petunjuk penting bagi arah ekonomi global dan kebijakan moneter ke depan.






