IHSG Terperosok Tajam ke Zona Merah

Author Image

Endang Wulansari

23 September 2026, 00:04 WIB

Jabarpos.id – Pasar modal Indonesia kembali menghadapi tekanan hebat pada perdagangan Selasa, 22 September 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot tajam ke zona merah dengan penurunan mencapai 107,68 poin atau setara dengan 1,69 persen. Berdasarkan data penutupan pasar, indeks kini tertahan di level 6.277,04.

Kondisi ini terasa cukup mengejutkan mengingat pergerakan pasar di awal sesi sempat menunjukkan optimisme. IHSG sebenarnya dibuka pada level 6.392,34 dan sempat melesat naik hingga menyentuh titik tertinggi harian di level 6.423,84. Namun, momentum penguatan tersebut tidak bertahan lama. Indeks justru berbalik arah dan mengalami aksi jual yang masif sepanjang sisa sesi perdagangan, hingga sempat menyentuh level terendah harian di angka 6.258,44.

IHSG Terperosok Tajam ke Zona Merah
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Jika menilik grafik pergerakan intraday, IHSG sempat mencoba melakukan upaya pemulihan ke area 6.330. Sayangnya, tekanan jual kembali mendominasi sehingga indeks kembali terkoreksi menuju area 6.270 sebelum akhirnya menutup perdagangan di level 6.277,04.

Dominasi sentimen negatif terlihat dari komposisi pergerakan saham hari ini. Sebanyak 556 saham mencatatkan penurunan harga, sementara hanya 148 saham yang mampu bertahan di zona hijau. Sisanya, sebanyak 259 saham bergerak stagnan tanpa perubahan harga. Dari sisi aktivitas transaksi, volume perdagangan mencapai 32,18 miliar dengan nilai transaksi yang sangat besar, yakni menyentuh Rp14,39 triliun dengan frekuensi mencapai 2,16 juta kali.

Penyebab utama anjloknya indeks bersumber dari sektor energi yang mengalami kontraksi cukup dalam sebesar 3,9 persen. Selain itu, sektor real estate juga ikut tertekan dengan penurunan 2 persen, disusul oleh sektor utilitas yang merosot 1,5 persen. Beberapa saham "raksasa" yang menjadi beban berat bagi IHSG antara lain PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), PT DCI Indonesia Tbk. (DCII), dan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS).

Meski demikian, terdapat beberapa saham yang mencoba memberikan perlawanan dan menjadi penopang di tengah badai koreksi, seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT Indosat Tbk. (ISAT), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN), PT Olympus Strategic Indonesia Tbk. (NATO), dan PT Calculus Global Ventures Tbk. (STAR).

Ke depan, pelaku pasar diprediksi akan tetap waspada terhadap dinamika geopolitik, terutama eskalasi konflik di Timur Tengah. Di sisi domestik, perhatian tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung selama dua hari. Pasar tengah menanti keputusan suku bunga acuan atau BI Rate yang dijadwalkan rilis pada Rabu (23/9/2026). Berdasarkan ekspektasi pasar, BI kemungkinan besar akan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen, mengikuti kebijakan pada bulan sebelumnya. Selain itu, aturan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) mengenai batas harga minimum saham juga menjadi poin penting yang akan dipantau oleh para investor.

Related Post