China Borong Emas Gila Gilaan

Author Image

Endang Wulansari

23 September 2026, 10:04 WIB

Jabarpos.id – Ekonomi terbesar kedua di dunia, China, tengah mencatatkan sejarah baru dalam pasar komoditas global. Sepanjang delapan bulan pertama tahun 2026, negara tirai bambu ini dilaporkan telah mengimpor emas dalam jumlah yang sangat fantastis, yakni menembus angka lebih dari 1.000 ton. Lonjakan drastis ini menjadi sinyal kuat adanya pergeseran besar dalam strategi pengelolaan kekayaan, baik di tingkat otoritas negara maupun investor ritel.

Berdasarkan laporan yang dihimpun, China telah menggelontorkan dana sebesar US$158,8 miliar atau setara dengan Rp2.811 triliun untuk memborong logam mulia tersebut sejak Januari hingga Agustus 2026. Jika dikonversi dengan kurs saat ini, angka tersebut benar-benar mencengangkan karena telah melampaui total belanja emas mereka sepanjang tahun 2025 yang hanya mencapai US$96,5 miliar. Fenomena ini menunjukkan bahwa minat terhadap instrumen bullion sedang berada di titik tertinggi.

China Borong Emas Gila Gilaan
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Ada beberapa faktor krusial yang memicu kegilaan belanja emas ini. Pertama, meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia membuat emas menjadi "pelabuhan aman" (safe haven) yang paling dicari. Kedua, kondisi ekonomi domestik China yang menantang memaksa para investor mencari alternatif aset yang lebih stabil. Sejak krisis sektor properti melanda pada tahun 2021, pasar saham di China mengalami tekanan hebat, di mana indeks acuan CSI 300 masih tertahan jauh di bawah level puncaknya.

Selain itu, minimnya imbal hasil dari instrumen investasi lain seperti obligasi pemerintah turut mempercepat arus modal ke emas. Lisa Liu, Managing Director Gold Mountains Asset Management, menjelaskan bahwa baik bank sentral maupun sektor swasta di China sedang melakukan diversifikasi aset secara masif. Mereka beralih ke instrumen yang memiliki risiko rekanan (counterparty risk) yang sangat minim sebagai bagian dari strategi perlindungan kekayaan jangka panjang.

Menariknya, tren ini juga dibarengi dengan penurunan kepemilikan China atas surat utang pemerintah Amerika Serikat (US Treasuries). Data menunjukkan kepemilikan tersebut merosot ke level US$618 miliar pada Juli, yang merupakan titik terendah sejak krisis finansial 2008. Hal ini memperkuat dugaan bahwa China sedang melakukan penataan ulang portofolio aset nasionalnya secara fundamental.

Para analis dari Goldman Sachs bahkan menduga bahwa aktivitas pembelian emas oleh Bank Sentral China (PBoC) jauh lebih besar daripada angka yang dilaporkan secara resmi kepada publik. Skala pembelian yang masif ini secara otomatis menjadikan China sebagai salah satu penggerak utama yang mendikte pergerakan harga emas di pasar internasional. Dengan kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, emas bukan lagi sekadar perhiasan, melainkan senjata ekonomi utama bagi China.

Related Post