Jabarpos.id – Fenomena pergeseran minat investor domestik kini tengah menjadi sorotan tajam di dunia keuangan. Jika sebelumnya pasar modal Indonesia menjadi primadona utama, kini banyak investor, mulai dari kalangan ritel hingga pemain besar, mulai melirik dan mengoleksi saham-saham dari Amerika Serikat (AS) dalam portofolio mereka.
Head of Research & Education Valbury, Iswardi Lingga, mengungkapkan bahwa ketertarikan terhadap pasar "Paman Sam" sebenarnya sudah lama ada. Namun, hambatan akses di masa lalu membuat potensi ini tidak tereksplorasi secara maksimal. Kini, situasi telah berubah drastis seiring dengan semakin mudahnya perizinan dan regulasi yang mendukung.
"Dengan perizinan yang lebih memudahkan, kita bisa lihat sekarang ini pertumbuhan makin tinggi. Minat yang dahulu sudah ada, kini semakin besar," ujar Iswardi dalam keterangannya, sebagaimana dikutip pada Selasa (22/9/2026).
Also Read
Salah satu alasan utama yang membuat saham AS begitu menggoda adalah ketersediaan sektor-sektor industri yang tidak ditemukan di pasar modal Indonesia. Ketika sektor teknologi atau inovasi global sedang mengalami masa kejayaan, investor Indonesia dapat langsung memanfaatkan momentum tersebut untuk meraup keuntungan. Selain itu, perbedaan performa indeks menjadi pembanding yang nyata. Saat indeks saham di dalam negeri cenderung stagnan atau bahkan mengalami penurunan, indeks di Amerika Serikat justru seringkali mencatatkan kenaikan signifikan hingga 20-30 persen.
Iswardi menjelaskan bahwa perbandingan antara pasar domestik dan AS tidak bisa dilakukan secara apple to apple. Sebagai contoh, sektor perbankan yang menjadi tulang punggung di Indonesia mungkin sedang lesu, namun di pasar AS, sektor teknologi terus melesat tanpa hambatan berarti.
Kemudahan akses ini juga didukung oleh mekanisme Penyaluran Amanat Luar Negeri (PALN). Melalui regulasi ini, pialang yang telah memiliki izin resmi dari Bappebti, OJK, dan Bank Indonesia dapat menyalurkan instruksi transaksi nasabah ke broker di luar negeri secara aman.
Menanggapi dinamika pasar AS yang bergerak pada waktu yang berbeda dengan Indonesia, Valbury telah menyiapkan ekosistem khusus. "Kami menyediakan layanan live trading agar investor bisa belajar sambil praktik langsung. Ekosistem ini kami kembangkan mulai pukul 15.00 hingga 22.00 WIB, menyesuaikan dengan jam operasional pasar AS," tambah Iswardi.
Lebih lanjut, Iswardi menekankan bahwa pasar AS adalah pusat likuiditas dunia. Aliran dana besar dari Jepang, Cina, hingga Timur Tengah berkumpul di sana, membuat pasar ini sangat kuat dan tidak mudah goyah oleh sentimen kecil. Ketahanan pasar AS terbukti saat menghadapi gejolak geopolitik; meski terjadi konflik global, pasar AS mampu mencatatkan rekor tertinggi baru (all time high), sementara banyak negara lain masih berjuang untuk pemulihan.
Bagi investor pemula yang ingin mencoba, Iswardi menyarankan untuk selalu memilih pialang yang memiliki lisensi resmi dari OJK. Selain aspek legalitas, reputasi dan rekam jejak layanan harus menjadi pertimbangan utama. Mengenai modal, berinvestasi di saham AS kini tidak lagi harus mahal. Meski pembelian minimal adalah satu lembar, investor dapat menggunakan metode fractional shares atau membeli potongan saham dengan modal yang sangat terjangkau, bahkan mulai dari US$ 10 saja.
Selain mengejar keuntungan dari kenaikan harga saham (capital gain), investor juga memiliki peluang tambahan dari keuntungan selisih nilai tukar mata uang (kurs). Dengan memperkuat layanan multi-aset, investor kini dapat dengan mudah memiliki saham raksasa dunia seperti Nvidia, Microsoft, Apple, hingga Amazon hanya melalui satu genggaman aplikasi.






