<strong>Jabarpos.id – </strong> Gejolak ekonomi global kembali memberikan sinyal waspada bagi pasar keuangan domestik. Ketegangan geopolitik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah kini menjadi faktor utama yang memicu ketidakpastian ekonomi dunia. Situasi ini tidak hanya berdampak pada stabilitas politik, tetapi juga merembet pada lonjakan harga minyak mentah dunia yang berujung pada ancaman inflasi global yang tak terkendali.
Kondisi inflasi yang merangkak naik ini memaksa bank sentral Amerika Serikat, The Fed, untuk mengambil langkah agresif guna menjaga stabilitas harga. Tekanan ekonomi yang masif membuat kebijakan moneter ketat menjadi pilihan yang sulit dihindari. Para pelaku pasar kini tengah bersiap menghadapi kemungkinan adanya kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat dalam waktu dekat.
SEVP Head of Treasury Sales & Distribution Bank CIMB Niaga, Hernaman Tandianto, mengungkapkan bahwa tekanan untuk menaikkan level Fed Funds Rate (FFR) masih sangat kuat. Hal ini dilakukan semata-mata untuk meredam laju inflasi yang terus membayangi ekonomi global. Berdasarkan proyeksi pasar, terdapat peluang besar bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan FOMC bulan Oktober dan Desember 2026 mendatang.
Also Read
Prediksi kenaikan tersebut diperkirakan sebesar 25 basis poin (bps) untuk masing-masing periode. Menariknya, probabilitas terjadinya kenaikan ini sudah melampaui angka 50 persen di mata para investor. Jika skenario ini benar-benar terjadi, maka arus modal global diprediksi akan kembali mengalir ke Amerika Serikat, yang secara otomatis memberikan tekanan depresiasi terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah.
Menanggapi dinamika tersebut, Bank Indonesia (BI) juga tidak tinggal diam. BI memiliki potensi untuk melakukan langkah serupa dengan menaikkan level BI Rate sebanyak satu kali guna menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi di dalam negeri. Langkah ini dianggap krusial agar selisih suku bunga antara Indonesia dan Amerika Serikat tetap kompetitif, sehingga investor tidak menarik dana mereka secara masif dari pasar keuangan Indonesia.
Meskipun tekanan terhadap Rupiah diprediksi akan semakin berat jika The Fed terus menaikkan suku bunga, Bank Indonesia telah menyiapkan "senjata" untuk menjaga kepercayaan pasar. Salah satunya adalah melalui kebijakan swap hedging facility discount. Langkah strategis ini dinilai sangat efektif untuk menarik minat investor agar tetap bertahan di pasar keuangan Indonesia meskipun kondisi global sedang tidak menentu.
Para pelaku pasar kini tengah memantau dengan saksama setiap kebijakan yang akan diambil oleh kedua bank sentral tersebut. Stabilitas ekonomi Indonesia akan sangat bergantung pada seberapa cepat dan tepat koordinasi kebijakan moneter antara Bank Indonesia dan arah kebijakan The Fed dalam menghadapi badai inflasi global ini. Melansir laporan dari jabarpos.id, penguatan fundamental ekonomi domestik tetap menjadi kunci utama dalam menghadapi volatilitas pasar keuangan dunia.






