Rupiah Terancam Tembus Rp18000 Per Dolar AS

Author Image

Endang Wulansari

27 September 2026, 04:31 WIB

Jabarpos.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kini tengah berada dalam zona merah yang mengkhawatirkan. Mata uang Garuda dilaporkan terus mengalami tekanan hebat hingga bergerak mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Kondisi ini memicu perhatian serius dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, mengingat dampak domino yang bisa ditimbulkan terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Menanggapi situasi yang kian memanas tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberikan pernyataan singkat terkait fenomena ini. Saat ditemui di kantornya di Jakarta Pusat pada Jumat (25/9/2026), Airlangga menyatakan bahwa pemerintah terus melakukan pengawasan ketat terhadap pergerakan mata uang domestik. Menurutnya, fluktuasi yang terjadi saat ini merupakan bagian dari dinamika pasar yang lazim terjadi.

Rupiah Terancam Tembus Rp18000 Per Dolar AS
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

"Kita lihat saja, kita monitor. Kan fluktuasi itu sesuatu yang biasa," ujar Airlangga singkat kepada awak media. Meski memberikan kesan tenang, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak bisa dianggap remeh. Hingga perdagangan pagi ini, rupiah sempat menyentuh kisaran Rp17.900 per dolar AS, sebuah angka yang sangat dekat dengan ambang batas Rp18.000. Walaupun sempat terjadi penguatan tipis ke level Rp17.895 per dolar AS pada siang harinya, volatilitas tetap menjadi ancaman nyata.

Pelemahan rupiah ini tidak terjadi tanpa alasan. Berbagai faktor global yang saling berkelindan menjadi pemicu utama. Salah satu faktor eksternal yang paling dominan adalah kebijakan moneter Amerika Serikat. Ekspektasi pasar terhadap pengetatan kebijakan moneter di AS telah memicu kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun hingga menyentuh angka 5,11 persen. Angka ini merupakan level tertinggi yang pernah tercatat sejak tahun 2007, yang secara otomatis menarik aliran modal keluar dari negara-negara berkembang (emerging markets) menuju dolar AS.

Selain faktor kebijakan AS, ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah turut memperkeruh suasana. Konflik yang terus berlanjut memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak dunia, yang berdampak pada melonjaknya harga minyak Brent hingga melampaui angka US$100 per barel. Kondisi ini menciptakan sentimen negatif terhadap aset-aset berisiko di seluruh dunia.

Dari sisi domestik, tekanan juga datang dari meningkatnya permintaan valuta asing oleh para importir menjelang berakhirnya kuartal ketiga tahun ini. Fenomena ini menambah beban bagi cadangan devisa dan menekan nilai tukar rupiah dari dalam negeri.

Menghadapi badai ekonomi ini, Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk tetap hadir di pasar. BI menyatakan akan terus melakukan intervensi dan memperkuat strategi operasi moneter yang berbasis mekanisme pasar (pro-market). Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar agar tetap selaras dengan fundamental ekonomi Indonesia, sekaligus mengelola struktur suku bunga di pasar uang agar tetap terkendali di tengah ketidakpastian global yang kian mencekam. Melansir laporan dari jabarpos.id, koordinasi antara pemerintah dan otoritas moneter menjadi kunci utama dalam meredam gejolak ini.

Related Post