Rupiah Rentan Melemah Lawan Dolar

Author Image

Endang Wulansari

29 September 2026, 04:31 WIB

Jabarpos.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belakangan ini tampak menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi. Kondisi ini memicu pertanyaan besar di tengah masyarakat mengenai apa sebenarnya faktor utama yang membuat mata uang Garuda begitu mudah terguncang oleh kekuatan dolar. Menanggapi fenomena tersebut, Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, akhirnya angkat bicara dan membeberkan akar permasalahan yang menjadi penyebab kerentanan tersebut.

Menurut Destry, penyebab utama dari fluktuasi dan kerentanan rupiah adalah posisi defisit transaksi berjalan atau yang dikenal dengan istilah current account deficit (CAD). Ia menjelaskan bahwa sebagai negara berkembang, Indonesia memang memiliki karakteristik ekonomi yang cenderung menghadapi defisit pada transaksi berjalan. Fenomena ini merupakan pola yang umum terjadi, kecuali pada masa pandemi Covid-19 lalu, di mana aktivitas ekonomi global sempat melambat secara drastis.

Rupiah Rentan Melemah Lawan Dolar
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

"Indonesia ini adalah negara berkembang, sehingga kita selalu menghadapi tantangan berupa defisit transaksi berjalan, kecuali pada masa pandemi saat aktivitas ekonomi sedang melemah. Negara dengan kondisi defisit transaksi berjalan seperti ini cenderung memiliki mata uang yang lebih rentan terhadap tekanan eksternal," ujar Destry dalam keterangannya.

Lebih lanjut, Destry menekankan bahwa stabilitas transaksi berjalan sebuah negara akan jauh lebih terjaga apabila didukung oleh arus masuk modal yang kuat, terutama modal yang bersifat permanen atau investasi jangka panjang. Kehadiran investasi jangka panjang ini sangat krusial karena mampu memberikan bantalan yang kuat bagi stabilitas nilai tukar, sehingga tidak mudah goyah oleh sentimen pasar jangka pendek.

Data terbaru menunjukkan bahwa tantangan ini memang sedang nyata dirasakan oleh ekonomi nasional. Indonesia mencatatkan defisit neraca transaksi berjalan (CAD) sebesar US$ 12,5 miliar pada kuartal II-2024. Jika dibandingkan dengan persentase terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), angka defisit tersebut mencapai 3,3%.

Angka ini menunjukkan lonjakan yang sangat signifikan jika disandingkan dengan periode sebelumnya. Pada kuartal I-2024, defisit transaksi berjalan Indonesia masih berada di level US$ 3,6 miliar atau setara dengan 1% dari PDB. Dengan kata lain, terjadi pembengkakan defisit hingga sekitar 3,5 kali lipat dalam waktu singkat.

Lonjakan defisit yang tajam ini tidak terjadi tanpa alasan. Berdasarkan analisis ekonomi, ada dua faktor utama yang menjadi pemicunya. Pertama, adanya kenaikan biaya impor migas yang dipicu oleh melonjaknya harga minyak dunia di pasar global. Kedua, surplus pada neraca perdagangan non-migas mengalami penurunan yang cukup terasa akibat tingginya permintaan impor untuk kebutuhan domestik.

Kombinasi antara tingginya biaya energi dan meningkatnya kebutuhan barang impor inilah yang akhirnya menekan neraca pembayaran Indonesia, yang pada gilirannya memberikan tekanan langsung terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pemerintah dan Bank Indonesia kini dituntut untuk terus memperkuat fundamental ekonomi agar defisit ini dapat terkendali dan stabilitas rupiah tetap terjaga.

Related Post