Jabarpos.id – Bank Indonesia (BI) dilaporkan terus melakukan langkah agresif dalam menyerap Surat Berharga Negara (SBN) di pasar. Hingga saat ini, total nilai pembelian surat utang pemerintah tersebut telah menembus angka yang fantastis, yakni hampir menyentuh Rp300 triliun. Langkah besar ini memicu pertanyaan di kalangan pengamat mengenai apa sebenarnya tujuan utama di balik kebijakan moneter tersebut.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, akhirnya memberikan penjelasan mendalam terkait strategi tersebut. Menurut Erwin, keputusan BI untuk terus memborong SBN, baik melalui mekanisme pasar primer maupun pasar sekunder, merupakan bagian dari strategi besar bank sentral untuk menjaga kecukupan likuiditas di dalam sistem keuangan nasional.
Dalam keterangannya kepada media pada Rabu (30/9/2026), Erwin mengungkapkan bahwa volume pembelian SBN yang dilakukan BI saat ini sudah melampaui angka Rp250 triliun. Tren ini bahkan menunjukkan peningkatan yang signifikan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, di mana total pembelian berada di kisaran Rp300 triliun.
Also Read
"Totalnya hampir Rp300 triliun kita melakukan pembelian SBN," ujar Erwin saat memaparkan kondisi moneter terkini.
Lebih lanjut, Erwin menjelaskan bahwa dengan menyerap SBN, BI secara langsung memasok likuiditas ke dalam sistem keuangan. Hal ini sangat krusial untuk memastikan bahwa pasar surat berharga tetap berfungsi secara optimal dan stabil. Tanpa adanya intervensi likuiditas, pasar bisa mengalami kekeringan dana yang berisiko mengganggu stabilitas ekonomi.
Salah satu alasan fundamental mengapa likuiditas menjadi fokus utama adalah perannya dalam menjaga kelancaran fungsi intermediasi perbankan. Perbankan membutuhkan ketersediaan dana yang cukup untuk menjalankan berbagai transaksi harian, mulai dari pengelolaan simpanan nasabah hingga penyaluran kredit atau pembiayaan kepada sektor riil.
Erwin menggunakan analogi yang sangat sederhana namun kuat untuk menggambarkan pentingnya hal ini. Ia menyebutkan bahwa likuiditas memiliki peran yang sangat vital, layaknya aliran darah dalam tubuh manusia.
"Likuiditas ini seperti darah di dalam kegiatan perbankan dan juga kegiatan ekonomi," tegas Erwin.
Jika aliran "darah" atau likuiditas ini tersumbat atau tidak mencukupi, maka seluruh aktivitas ekonomi akan terganggu. Oleh karena itu, BI memikul tanggung jawab untuk memastikan ketersediaan dana dalam jumlah yang memadai agar seluruh roda ekonomi dapat berputar dengan lancar. Dengan likuiditas yang terjaga, target pertumbuhan ekonomi nasional diharapkan dapat tercapai sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan pemerintah.
Dalam menjalankan tugas menjaga stabilitas ini, BI tidak hanya mengandalkan pembelian SBN. Bank sentral menggunakan berbagai instrumen kebijakan moneter yang kompleks. Beberapa di antaranya meliputi kalibrasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), penyediaan operasi moneter ekspansi melalui mekanisme repo, hingga pelaksanaan transaksi swap. Semua instrumen ini dirancang secara terintegrasi untuk memastikan stabilitas nilai tukar rupiah dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi tetap positif. Melansir laporan dari jabarpos.id.






