Rupiah Terperosok Dolar AS Tembus 17940

Author Image

Endang Wulansari

2 Oktober 2026, 06:04 WIB

Jabarpos.id – Mata uang Garuda kembali menunjukkan performa yang kurang memuaskan pada awal perdagangan bulan Oktober ini. Setelah sempat mencatatkan penguatan yang signifikan pada perdagangan sebelumnya, nilai tukar rupiah justru kembali tergelincir ke zona merah saat berhadapan dengan dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data terbaru dari Refinitiv, rupiah resmi ditutup melemah sebesar 0,39% pada perdagangan Kamis (1/10/2026). Mata uang kebanggaan Indonesia ini berakhir di level Rp17.940 per dolar AS. Penurunan ini menjadi catatan merah bagi stabilitas nilai tukar domestik, mengingat posisi rupiah sebelumnya sempat menguat 0,50% pada Rabu kemarin dengan level penutupan di Rp17.870 per dolar AS. Secara nominal, rupiah mengalami penurunan sebesar 70 poin dari posisi penutupan sebelumnya.

Rupiah Terperosok Dolar AS Tembus 17940
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Pelemahan rupiah ini tidak lepas dari dominasi dolar AS yang semakin perkasa di pasar global. Indeks dolar AS (DXY), yang menjadi tolok ukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat menguat 0,23% ke posisi 101,678 pada pukul 15.00 WIB. Fenomena ini menunjukkan bahwa permintaan pasar terhadap aset berbasis dolar masih sangat tinggi, yang secara otomatis menekan mata uang dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dolar AS bahkan berhasil menyentuh level tertingginya dalam tiga bulan terakhir. Kekuatan dolar ini didorong oleh melonjaknya imbal hasil US Treasury. Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global, terutama kekhawatiran mengenai tekanan inflasi dunia akibat eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Meskipun data inflasi di Amerika Serikat menunjukkan angka yang lebih rendah dari ekspektasi—yang seharusnya mengurangi spekulasi kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed)—pasar justru bereaksi berbeda. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun justru melonjak ke level 5,33%, yang merupakan angka tertinggi sejak tahun 2002. Selain itu, pasar obligasi global juga mengalami guncangan hebat dengan mencatat penurunan bulanan terbesar dalam beberapa tahun terakhir pada September lalu, akibat memburuknya kondisi fiskal di berbagai negara.

Di sisi domestik, pelaku pasar kini tengah menyoroti rilis data inflasi Indonesia untuk periode September 2026. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi bulanan pada September berada di angka 0,30%, naik tipis dari 0,21% pada Agustus. Secara tahunan, inflasi merangkak naik menjadi 3,28% dari sebelumnya 3,19%.

Menariknya, meskipun tekanan harga umum meningkat, inflasi inti Indonesia justru menunjukkan tren melandai menjadi 2,84% secara tahunan. Secara akumulatif, inflasi sepanjang Januari hingga September 2026 tercatat sebesar 2,17%. Angka-angka ini menunjukkan bahwa inflasi domestik sebenarnya masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia, yakni antara 1,5% hingga 3,5%.

Namun sayangnya, stabilitas inflasi di dalam negeri belum cukup kuat untuk membendung arus penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Para investor tampaknya masih lebih memilih untuk menempatkan modal mereka pada aset-aset dolar yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian global yang membayangi.

Related Post