Jabarpos.id – Mata uang Garuda menunjukkan performa positif pada penutupan perdagangan Jumat (9/10/2026). Setelah sempat mengalami tekanan pada hari sebelumnya, nilai tukar rupiah akhirnya berhasil mencatatkan penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Meski demikian, momentum penguatan ini terlihat sedikit melambat jika dibandingkan dengan posisi pembukaan pasar pada pagi hari tadi.
Berdasarkan data terbaru dari Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan di level Rp17.875 per dolar AS. Angka ini menunjukkan apresiasi sebesar 0,08% jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada Kamis (8/10/2026) yang berada di level Rp17.890 per dolar AS. Menariknya, pada awal sesi perdagangan, rupiah sempat melesat lebih kuat ke posisi Rp17.855 per dolar AS atau menguat 0,20%. Namun, tekanan pasar membuat penguatan tersebut perlahan terkikis hingga mencapai level penutupan saat ini.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang menjadi barometer kekuatan mata uang Amerika Serikat terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau mengalami pelemahan sebesar 0,11% ke posisi 102,025 pada pukul 15.00 WIB.
Also Read
Dinamika pergerakan rupiah sepanjang hari ini dipengaruhi oleh berbagai faktor fundamental, baik dari kebijakan moneter dalam negeri maupun kondisi fiskal pemerintah. Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk mempertahankan suku bunga acuan. Langkah ini diambil meskipun bank sentral Amerika Serikat, The Fed, telah mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga pada September 2026 lalu.
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa keputusan BI didasarkan pada pertimbangan dampak ekonomi secara menyeluruh, bukan sekadar menjaga stabilitas nilai tukar. Menurutnya, kebijakan suku bunga yang telah diambil pada pertemuan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei-Juni 2026 lalu dinilai masih cukup kuat untuk mengendalikan inflasi serta menjaga stabilitas rupiah. BI kini lebih memilih untuk mengoptimalkan instrumen lain, seperti insentif biaya lindung nilai (hedging), daripada terus menaikkan suku bunga acuan.
Selain faktor moneter, kondisi fiskal negara juga menjadi sorotan utama investor. Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam konferensi pers APBN KiTa edisi September 2026 melaporkan bahwa defisit APBN hingga September mencapai Rp319 triliun atau setara dengan 1,24% terhadap PDB. Realisasi pendapatan negara tercatat sebesar Rp2.341,5 triliun, sementara belanja negara mencapai Rp2.660,5 triliun. Pemerintah menyatakan bahwa kondisi ini masih berjalan sesuai rencana (on track).
Sementara itu, dari sisi konsumsi masyarakat, Indeks Penjualan Riil (IPR) Agustus 2026 mencatatkan pertumbuhan sebesar 1,3% secara tahunan (yoy), meningkat dari pertumbuhan Juli yang berada di angka 1,1%. Pertumbuhan konsumsi domestik yang stabil ini menjadi sinyal positif bagi prospek ekonomi Indonesia di masa mendatang.






