Tragedi Perampokan Bank Terbesar di Batavia

Author Image

Endang Wulansari

24 Oktober 2026, 10:31 WIB

Jabarpos.id – Sejarah kelam pernah menyelimuti Batavia pada awal abad ke-20, ketika sebuah aksi kriminalitas nekat mengguncang stabilitas keuangan di pusat kota. Dua bersaudara asal Belanda, Herman dan Cornelis Gentis, melakukan aksi perampokan besar-besaran terhadap De Javasche Bank (DJB)—lembaga yang kini kita kenal sebagai Bank Indonesia. Aksi yang terjadi pada 22 November 1902 ini bukan sekadar perampokan biasa, melainkan sebuah upaya putus asa dari dua pengusaha properti yang sedang berada di ambang kebangkrutan.

Peristiwa mencekam ini bermula ketika kedua kakak beradik tersebut mendatangi kantor DJB dengan penampilan yang sangat meyakinkan. Mereka menyamar layaknya kaum borjuis atau orang kaya yang hendak melakukan transaksi besar. Tak ada satu pun petugas bank yang menaruh curiga terhadap penampilan rapi mereka. Namun, suasana berubah drastis dalam sekejap saat kedua pelaku tiba-tiba mengeluarkan senjata api dan mengancam nyawa para petugas di sana.

Tragedi Perampokan Bank Terbesar di Batavia
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Di bawah todongan pistol, petugas bank tidak memiliki pilihan selain menyerahkan uang tunai sebesar 100 ribu gulden. Jika dikonversikan dengan nilai emas saat ini, jumlah tersebut setara dengan sekitar Rp157 miliar. Setelah berhasil menggasak uang dalam jumlah fantastis tersebut, aksi pengejaran pun pecah. Para pelaku tidak segan-segan melepaskan tembakan kepada petugas yang mencoba mengejar mereka. Bahkan, dalam pelariannya, mereka membajak sebuah delman dan menembaki penumpang yang ada di dalamnya.

Pelarian dramatis ini berlanjut hingga ke kawasan Jembatan Merah, di mana mereka berganti kendaraan menggunakan kuda untuk melarikan diri ke arah Bogor melalui Bidara Cina dan Cibubur. Pengejaran polisi berlangsung hingga dini hari dan baru mencapai titik krusial di kawasan Ciluar, Bogor Utara. Saat fajar menyingsing, kuda yang mereka tunggangi mulai kelelahan, membuat salah satu pelaku mencoba melompat untuk kabur, namun polisi berhasil meringkusnya. Cornelis Gentis sendiri akhirnya tertangkap setelah dicegat dan diamuk massa di Kota Bogor.

Motif di balik aksi kriminal ini terungkap setelah identitas mereka sebagai pengusaha properti teridentifikasi. Herman dan Cornelis adalah otak di balik proyek kota mandiri mewah bernama Gentisville di Pelabuhanratu, Sukabumi. Proyek yang mencakup vila-vila mewah dan fasilitas hiburan kelas atas tersebut hancur total akibat kebakaran hebat pada Agustus 1902. Kebakaran itu membuat investasi mereka ludes dan memicu tekanan finansial yang luar biasa.

Meski pengadilan menjatuhkan vonis penjara masing-masing 15 tahun dan 10 tahun, akhir dari kisah mereka justru penuh kontroversi. Pada tahun 1904, kedua bersaudara ini justru mendapatkan pengampunan dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Mereka mendapatkan pengurangan masa hukuman hingga tujuh tahun, sebuah akhir yang mengejutkan bagi publik yang saat itu sangat geram dengan aksi nekat mereka.

Related Post