Jabarpos.id – Industri otomotif global tengah diguncang badai besar, dan kali ini salah satu raksasa otomotif asal Swedia, Volvo Cars, berada di titik nadir yang mengkhawatirkan. Perusahaan yang dikenal dengan standar keamanan tinggi ini dilaporkan tengah menghadapi krisis finansial hebat yang mengancam keberlangsungan bisnisnya di masa depan.
Kondisi ini terlihat jelas dari performa pasar sahamnya yang terjun bebas. Pada penutupan perdagangan Jumat (23/10/2026), saham Volvo Cars anjlok hingga 24 persen, menyentuh level terendah sepanjang sejarah perusahaan. Penurunan drastis ini dipicu oleh laporan keuangan kuartal III-2026 yang sangat mengecewakan, di mana perusahaan justru membukukan kerugian operasional yang jauh melampaui ekspektasi para analis.
Berdasarkan data terbaru, Volvo mencatatkan kerugian operasional sebesar 3,7 miliar krona Swedia atau setara dengan US$373 juta. Angka ini merupakan pembalikan drastis jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang masih mencatatkan laba sebesar 5,8 miliar krona. Tidak hanya rugi, penggunaan kas perusahaan juga membengkak hingga dua kali lipat dibandingkan tahun lalu, mencapai angka 8,9 miliar krona Swedia.
Also Read
Menanggapi situasi kritis ini, CEO Volvo, Hakan Samuelsson, mengakui bahwa kondisi tahun ini jauh lebih menantang dari perkiraan awal. Sebagai langkah darurat, perusahaan terpaksa melakukan pemangkasan besar-besaran terhadap tenaga kerja. Sebanyak 2.500 karyawan, yang mayoritas berada di Swedia, akan diberhentikan. Langkah pahit ini merupakan tambahan dari rencana pengurangan 3.000 pekerja yang telah diumumkan sebelumnya.
Krisis yang menimpa Volvo bukan tanpa alasan. Perusahaan yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Geely Holding asal China ini terjepit di tengah dinamika pasar yang tidak menentu. Permintaan kendaraan listrik (EV) yang tidak stabil, tekanan tarif perdagangan yang meningkat, serta kondisi pasar di China yang kian kompetitif menjadi beban berat bagi Volvo.
Salah satu kendala teknis yang memperparah keadaan adalah penundaan produksi SUV listrik EX60, yang sebenarnya diharapkan menjadi penyelamat perusahaan. Akibat kendala pada perakitan baterai, produksi model ini baru mencapai 5.000 unit, sangat jauh dari target ambisius sebesar 40.000 unit untuk tahun ini.
Analis dari Handelsbanken, Hampus Engellau, memperingatkan bahwa jika tren pengurasan kas ini terus berlanjut selama dua kuartal ke depan, Volvo kemungkinan besar akan membutuhkan suntikan modal tambahan untuk bertahan hidup. Situasi ini mencerminkan tekanan sistemik yang juga dirasakan oleh produsen mobil Eropa lainnya, seperti Volkswagen, yang juga tengah berjuang menghadapi kelebihan kapasitas pabrik dan persaingan harga yang sangat sengit.
Kini, beban berat berada di pundak Klaus Zellmer, mantan bos Skoda, yang akan menggantikan Samuelsson tahun depan. Zellmer ditantang untuk menghentikan kemerosotan salah satu merek paling ikonik di Eropa ini di tengah margin keuntungan yang terus tergerus. Jika tidak segera dilakukan transformasi radikal, raksasa otomotif ini dikhawatirkan hanya akan menjadi catatan sejarah dalam industri mobil dunia.






