Strategi RI Kurangi Dominasi Dolar AS

Author Image

Endang Wulansari

26 Oktober 2026, 21:04 WIB

Jabarpos.id – Upaya pemerintah Indonesia untuk melepaskan diri dari ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan tren yang sangat positif. Melalui kebijakan penggunaan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT), nilai transaksi perdagangan dan investasi internasional Indonesia diproyeksikan akan melonjak tajam dalam beberapa tahun ke depan.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengungkapkan optimisme tinggi terhadap perkembangan skema LCT ini. Berdasarkan proyeksi terbaru, nilai transaksi yang menggunakan mata uang lokal diperkirakan akan menembus angka US$55 miliar pada akhir tahun 2026 mendatang. Angka fantastis ini menunjukkan pertumbuhan yang sangat signifikan, mengingat pada tahun 2025 realisasi transaksinya baru menyentuh angka sekitar US$25 miliar.

Strategi RI Kurangi Dominasi Dolar AS
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Dalam keterangannya di acara Danantara TIIF26 yang berlangsung di Jakarta Selatan, Destry menjelaskan bahwa lonjakan transaksi ini tidak terjadi tanpa alasan. Salah satu faktor utama yang menjadi motor penggerak adalah kerja sama erat antara Indonesia dengan China. Sebagai mitra dagang terbesar, kontribusi China dalam penggunaan mata uang lokal sangat dominan dalam memperkuat ekosistem LCT di tanah air.

"Saat ini transaksinya diprediksi mencapai US$55 miliar pada akhir tahun 2026, padahal tahun lalu baru sekitar US$25 miliar. Kontribusi terbesar datang dari China," ujar Destry di hadapan para pelaku industri.

Lebih lanjut, Destry menekankan bahwa diversifikasi mata uang dalam kegiatan ekspor, impor, hingga investasi internasional merupakan langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Dengan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada dolar AS, Indonesia memiliki benteng pertahanan yang lebih kuat dalam menghadapi fluktuasi pasar keuangan global yang seringkali tidak menentu.

"Dengan melakukan diversifikasi mata uang untuk transaksi perdagangan dan investasi, kita secara otomatis mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Hal ini diharapkan dapat membuat nilai tukar Rupiah menjadi lebih seimbang dan stabil," tambahnya.

Saat ini, Bank Indonesia telah berhasil membangun kemitraan LCT dengan enam hingga tujuh negara mitra strategis. Negara-negara tersebut meliputi Malaysia, Thailand, Jepang, China, Korea Selatan, Uni Emirat Arab (UEA), dan Singapura. Namun, BI tidak berhenti di situ. Bank sentral terus bergerak aktif menjalin pendekatan bilateral dengan negara-negara lain yang memiliki hubungan dagang kuat dengan Indonesia.

Menariknya, minat negara-negara lain untuk bergabung dalam ekosistem ini semakin meningkat. Destry menyebutkan bahwa Singapura telah menyatakan ketertarikannya untuk memperluas kerja sama, terutama setelah suksesnya implementasi QRIS lintas negara. Sementara itu, India menunjukkan minat yang sangat besar untuk tidak hanya bergabung dalam skema LCT, tetapi juga memperluas penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) agar transaksi ritel antarnegara menjadi lebih mudah.

"Singapura ingin bergabung dalam LCT, sementara India tertarik pada QRIS sekaligus LCT. Bahkan, beberapa bank sentral negara lain mulai menghubungi kami untuk menjajaki peluang kerja sama serupa," pungkas Destry. Langkah ekspansif ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia sedang membangun kekuatan ekonomi baru yang lebih mandiri dan inklusif di kancah global.

Related Post